Menjelang Natal, Menag Himbau Pemeluk Agama Bijak Pemakaian Atribut Agama

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyatakan bahwa Kementerian Agama (Kemenag) tidak akan membuat aturan mengenai penggunaan atribut tertentu dalam memperingati hari besar keagamaan.

“Kemenag tentu tidak akan membuat aturan berisi perintah atau larangan tentang penggunaan atribut dan pakaian keagamaan tertentu,” demikian penegasan Menag LHS menanggapi isu tentang penggunaan pakaian atau atribut Kristen jelang Natal, Jakarta, Selasa (9/12/2014).

Meski Kemenag tidak membuat aturan khusus, Lukman menghimbau agar masing-masing pemeluk agama bersikap dewasa dan bijak serta tidak menuntut apalagi memaksa seseorang untuk menggunakan pakaian atau atribut agama yang tidak dianutnya.

“Seorang muslim tidak usah dituntut menggunakan kalung salib atau topi sinterklas demi menghormati Hari Natal. Juga umat perempuan non-muslim tidak perlu dipaksa berjilbab demi hormati Idul Fitri,” tegas Lukman.

Dikatakan Menag bahwa bertoleransi bukanlah saling meleburkan dan mencampurbaurkan identitas masing-masing atribut dan simbol keagamaan yang berbeda, tetapi saling mengerti dan memahami.

“Bertoleransi adalah saling memahami, mengerti, dan menghormati akan perbedaan masing-masing, bukan menuntut pihak lain yang berbeda untuk menjadi sama seperti dirinya,” tandas Lukman.

Perbedaan pendapat antar agama memang sering terjadi. Toleransi antar agama sangat penting, namun toleransi itu sendiri ada batas dan aturannya. Seharusnya kita semua dapat bersikap bijak dan saling menghormati antar pemeluk agama lain.