Bebas Dari Hukum Malaysia, Hiu Bersaudara Pulang Ke Pontianak

Frans Hiu dan Dharry Frully Hiu, dua warga Provinsi Kalimantan Barat yang divonis bebas oleh Mahkamah Agung Malaysia pada Selasa, 18 November 2014 lalu, akhirnya tiba di Pontianak, Kamis (20/11/2014) sekitar pukul 20.45 WIB.

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis dan istri, Frederika, bersama sejumlah pejabat dan staf terkait di lingkungan Pemprov Kalbar, ikut serta bersama Frans dan Dharry yang tiba di Bandara Supadio Pontianak menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Gubernur Cornelis mengucapkan rasa syukur karena butuh waktu lama untuk menemani Frans dan Dharry.

“Sekitar empat tahun kami berjuang sehingga akhirnya dinyatakan bebas murni,” ujar Cornelis.

Menurut Cornelis, prosedur hukum di Malaysia yang panjang mempengaruhi lamanya hukuman. Sementara Frans terlihat santai berupaya menyampaikan apa yang dialaminya hingga sekarang.

“Kami lega, sudah lepas dari ancaman itu,” kata Frans.

Frans pun tak sabar ingin bertemu dengan keluarganya di Siantan, Pontianak Utara. Hiu bersaudara tersebut mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Kalbar khususnya Gubernur Cornelis serta pihak lain yang bersedia membuang tenaga, waktu, uang, dan pikiran sehingga mereka bebas.

Sebelumnya, Frans dan Dharry yang tinggal di Pontianak Utara, bekerja di sebuah arena kedai “playstation” milik Hooi Teong Sim di Selangor, Malaysia, sejak 2009 dengan menggunakan visa pelancong.

Pada 3 Desember 2010, Frans memergoki seorang pencuri melakukan aksi di perusahaan tempatnya bekerja, di Jalan 4 Nomor 34, Taman Sri Sungai Pelek, Sepang, Selangor, Malaysia. Pencuri itu warga Malaysia, bernama Kharti Raja, ditangkap oleh Frans, namun kemudian pingsan dan meninggal dunia.

Dalam pemeriksaan lebih lanjut, polisi setempat mendapati Kharti memiliki narkoba di saku celana. Visum dokter juga menyebutkan bahwa Kharti Raja meninggal karena over dosis narkoba.

Pengadilan Majelis Rendah Selangor memutuskan Frans dan Dharry serta satu rekannya warga Malaysia, tidak bersalah, pada sidang pertengahan 2012. Namun sidang selanjutnya menetapkan vonis mereka bersalah dan harus dihukum gantung.

Setelah keduanya dinyatakan tidak bersalah oleh Majelis Rayuan Petra Jaya, Hiu bersaudara tidak bisa langsung bebas karena jaksa setempat mengajukan banding. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Frans dan Dharry dinyatakan bebas dalam sidang Selasa, 18 November 2014.

Kejadian tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa perjuangan dan pengorbanan tidaklah berakhir sia-sia. Walaupun begitu masyarakat juga harus lebih hati-hati bila ingin bekerja disuatu negara, masyarakat harus memiliki izin yang resmi dan jelas. Jika disaat hal yang tidak diinginkan terjadi dapat dengan mudah diberi pertolongan oleh negara asal.