Peringati Hari Toleransi Internasional Untuk Keharmonisan Indonesia

Peringatan hari toleransi internasional dilaksanakan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu (16/11/2014) pagi yang diselenggarakan oleh Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) dan Perkumpulan Bhineka Tunggal Ika (PBTI), didukung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Kementerian Sosial.

Ribuan orang berkumpul dalam kegiatan ini, sebagian dari mereka menggunakan pakaian adat dan melakukan pawai obor perdamaian di area car free day. Dimulai dari Bundaran HI hingga finis di Patung Kuda, tepatnya dekat Gedung Indosat. Sebanyak 19 burung merpati akan dilepaskan. Kofifah Indar Parawansa dan Yohana Yambise pun juga ikut serta dalam pawai budaya tersebut.

Sekjen ANBTI Nia Ajarifudin menjelaskan digelarnya kegiatan tersebut untuk mengingatkan masyarakat agar menjaga keharmonisan di negeri yang lahir dari kebinekaan agama dan kepercayaan, suku, etnis, serta golongan.

Menteri Sosial menyatakan pendapatnya tentang Hari Toleransi Internasional ini. Kofifah Indar Parawansa meyakini Indonesia akan menjadi sebuah bangsa yang besar bila tak ada lagi pihak-pihak yang membanding-bandingkan suku, ras dan bangsa. “Bangsa ini besar kalau yang di Aceh dan NTT bergandengan tangan. Oleh karena itu adanya perbedaan di antara satu suku, agama, ras, satu dengan yang lain,” kata Khofifah.

Ekspresi dari kebebasan dan penyampaian pendapat tetap harus di beri ruang, dikarenakan hal tersebut merupakan hak demokrasi dari seluruh warga bangsa. Namun, meski begitu, proses demokrasi, harus tetap menjaga perdamaian dan tanggung jawab satu sama lain. Sehingga proses-proses itu tidak menggunakan kekerasan.

Diketahui, Hari tolerasnsi internasional dideklarasikan oleh Badan Dunia untuk Pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO) pada tahun 1995 lalu, peringatan ini sebagai maksud seruan bagi seluruh warga dunia mengenai pentingnya meningkatkan toleransi dan mengakui, menghormati, serta membiarkan segala bentuk perbedaan yang ada.

Maka dalam rangka hari toleransi nasional ke-19 ini, Khofifah menginginkan Indonesia kembali ke Nawacita, yaitu merevitalisasi masyarakat tentang kebhinekaan, “Jadi Kita harus melihat realistik ada multikultur. Ada Masyarakat yang plural,” tegas Kofifah Indar Parawansa.

Toleransi memang harus diutamakan, karena manusia tidak hidup sendiri. Maka dari itu menjaga perdamaian dan tidak membanding-bandingkan antara suku, ras dan bangsa akan membuat kehidupan semakin harmonis dan tentram.