Tingkatkan Hubungan Kristen-Muslim, AS Adakan Shalat Jumat Di Katedral Nasional Washington

Dalam rangka meningkatkan hubungan kedua agama di negeri paman Sam, pada tanggal 13 November 2014 akan dilakukan pertama kalinya shalat Jum’at komunitas Muslim di AS di Katedral Nasional Washington  dilakukan pertama kalinya shalat Jum’at komunitas Muslim di AS.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pesan kesepahaman dan kesalingpengertian lebih baik antara komunitas Muslim dan Kristen di seluruh dunia serta memperlihatkan diterimanya agama islam di Amerika.

Katedral bersejarah tersebut sudah sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan nasional, termasuk pemakaman kepresidenan dan  beberapa kali pernah menjadi lokasi kegiatan antar agama dengan Muslim lokal. Dan kini digunakan untuk kegiatan sholat jumat.

Bangku-bangku jemaat yang biasanya berjajar di lantai gereja, diganti dengan hamparan sajadah dan karpet. Kayu salib raksasa yang berada di ujung ruang gereja pun juga telah diturunkan. Pendeta Gina Campbell menyambut jemaah, menyatakan bahwa Katedral Nasional Washington adalah tempat ibadah bagi semua orang. “Mari kita buka hati kita dan berusaha untuk memohon rahmat dan sembah bagi Tuhan kita masing-masing,” kata Pendeta Gina.

Ebrahim Rasool, Duta Besar Afrika Selatan untuk Amerika yang seorang muslim adalah pencetus acara Sholat Jumat tersebut.  Ebrahim dalam khotbahnya berharap agar kebebasan beragama berlangsung di AS, dan mengutuk tindakan militan ISIS yang membunuh kaum Kristen di Timur Tengah.

Para pemimpin gereja dan kelompok-kelompok Muslim yang bermitra berharap sholat Jumat kali ini menebarkan pesan perdamaian dan menentang penggunaan agama yang ekstrim untuk membenarkan kebencian dan perselisihan. Dan kegiatan ini merupakan simbol bagi tiga juta Muslim di AS agar merasa diterima di negara yang mayoritas Kristen, serta bagi Muslim di negara-negara dimana mereka mayoritas, untuk menunjukkan kebaikan bagi pemeluk agama minoritas.

Terkait tentang muslim yang beribadah di gereja, Imam Masjid New York AS asal Indonesia Syamsi Ali  mengungkapkan hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi di negara super power ini.

“Biasanya mereka menyewa ruangan Gereja untuk Jum’atan, di New York  ada beberapa Jum’atan yang sering dilakukan di Gereja. Biasanya mereka berbaik hati menawarkan fasilitas untuk shalat Muslim,” ucap Syamsi.

Namun muslim di AS tidak kalah toleran terhadap umat lain dalam hal beribadah. Imam Masjid New York itu juga mengatakan ada Masjid di Bronx New York yang meminjamkan ruangan untuk beribadah umat Yahudi.

“Memang Sinagog milik mereka bangkrut  dan Yahudi di sekitar area itu perlu tempat ibadah maka Masjid yang beri fasilitas, sampai mereka bisa beli lagi gedungnya,” tambuh Syamsi Ali.

Toleransi keberagaman agama memang harus ditegakkan, semoga harapan Ebrahim Rasool bisa terlaksana dan tidak hanya di Amerika Serikat saja, namun juga seluruh dunia. Karena semua agama harus dihormati, tidak ada alasan etnis dan agama untuk melukai sesorang.