Penyerangan Polisi Yang Membabi Buta Pada Wartawan, Dikecam Para Jurnalis

Penyerangan aparat kepolisian yang membabi buta di kampus Universitas Negeri Makassar (UNM), melukai beberapa wartawan yang sedang melakukan peliputan.

Keempat wartawan korban pemukulan bernama Waldy (Metro TV), Ikrar (Celebes TV), Iqbal (Koran Tempo), dan Aco (TV One). Pemukulan wartawan ini terjadi ketika kartu memori milik Iqbal dirampas oleh polisi. Waldy kemudian muncul untuk mencegah aksi polisi. Namun, Waldy malah menjadi amukan polisi, yang mengakibatkan pelipis kiri jurnalis tersebut sobek sepanjang 5 sentimeter. Waldy kemudian dilarikan ke RS Islam Faisal.

Ikrar pun mengalami kekerasan aparat kepolisian Makassar. Sementara itu, kamerawan TV One, Aco, yang sedang mengambil gambar di atas tembok pagar kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Makassar yang bersebelahan dengan gedung Phinisi, ditarik turun oleh aparat.

Polisi mencari-cari wartawan yang mengambil gambar penyerangan dan pengeroyokan mahasiswa di dalam kampus UNM. Syamsul Time, wartawan RTV, mengungkapkan, saat melintas di depan pasukan Brimob, mereka sempat berteriak “bunuh wartawan”.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulselbar Komisaris Besar Polisi Endi Sutendi, yang dikonfirmasi di depan kampus UNM, mengatakan, tindakan brutal polisi terjadi secara spontan. Anggota melakukan penyerangan karena pimpinannya terkena panah.

“Saya minta maaf kepada rekan-rekan media yang mendapat perlakuan kasar saat melakukan peliputan. Tindakan itu spontanitas dilakukan anggota, setelah pimpinannya terkena panah. Ya, puluhan mahasiswa yang berhasil diamankan,” ucap Endi Sutendi.

Tentang kejadian ini, jurnalis harian Fajar Makassar, Ridwan Marzuki mengecam aksi brutal aparat kepolisian, dan meminta Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Anton Setiadi harus bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. “Kita desak Kapolda untuk bertanggungjawab mengusut tuntas penganiayaan jurnalis,” kata Ridwan.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mandar, Sulawesi Barat, ikut mengecam kasus pemukukan terhadap wartawan tersebut. “AJI tentu mengecam aksi kekerasan terhadap wartawan. Apalagi, kali ini pelakunya adalah oknum aparat hukum. Kita harap, kasus itu diusut tuntas dengan mengganjar pelaku sebagaimana ketentuan pidana Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” kata Ketua AJI Kota Mandar, Sudirman Samuel di Mamuju, Kamis (13/11).

Tindakan kekerasan yang menimpa wartawan di Makassar saat melaksanakan tugas jurnalis telah mendapatkan perlindungan UU tentang Pers.

Proses pembubaran aksi unjuk rasa mahasiswa UNM yang menolak kenaikan harga BBM Kamis, (13/11/2014) sangat tidak manusiawi. Selain merusak fasilitas kampus dan merusak puluhan kendaraan mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM), aksi membabi buta aparat kepolisian juga terjadi kepada beberapa jurnalis yang sedang melakukan peliputan. Semoga hal ini segera diatasi oleh Kapolda Sulselbar, sebelum para jurnalis semakin banyak yang mengecam tindakan Kapolda tersebut.