7 Hal Mengejutkan ‘Copa America Centenario 2016’ Yang Pertama Kalinya Digelar Di USA

Dalam pertandingan Final Copa America 2016 yang berjalan alot di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (27/6) pagi WIB, Chile akhirnya keluar sebagai juara setelah kandaskan Argentina dengan skor 4-2 melalui adu penalti setelah 120 menit berlalu tanpa gol. Dalam sejarah, ini adalah kali keempat final Copa America yang berlanjut ke babak extra time. Namun babak perpanjangan waktu masih juga tidak menghasilkan gol sehingga pertandingan harus diselesaikan melalui adu penalti.

Turnamen ini digelar untuk memperingati 100 tahun kompetisi antarnegara tertua di dunia. Edisi pertama turnamen ini digelar di Argentina, 1916 silam. Edisi kali ini, Copa America Centenario tak masuk urutan karena hanya turnamen perayaan 100 tahun.

Berlalu begitu cepat, namun masih hangat kejadian – kejadian yang menghebohkan dan tidak disangka-disangka selama pertandingan ini, kami ringkas dalam tujuh berita mengejutkan selama Copa America 2016, yaitu:

1. Argentina menjadi Runner-up untuk kesekian kalinya
Argentina dan Chile bermain skor kacamata hingga babak kedua usai, pada Minggu, 26 Juni, waktu setempat, atau Senin pagi, 27 Juni, WIB. Hingga babak kedua usai, kedua tim masih seri. Pertandingan pun dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu. Namun Chile berhasil menjadi juara usai mengalahkan Argentina melalui adu penalti 2-4.

2. Lionel Messi pensiun dari timnas Argentina
Setelah gagal dalam adu penalti di final Copa America Centenario, 27 Juni, Kapten Argentina Lionel Messi memutuskan untuk pensiun dari tim nasional Argentina.
“Untuk saya, tim nasional telah usai. Saya telah melakukan yang saya bisa, saya telah berada di empat fina dan sangat menyakitkan tidak menjadi juara,” kata pemain yang baru berusia 29 tahun tersebut. Hal mengejutkan ini diikuti pula oleh Javier Mascherano yang juga ikut memutuskan pensiun dari timnas.

3. 8 kartu kuning dan 2 kartu merah warnai Final Copa America 2016
Sepanjang laga, pertandingan berjalan dengan tempo tinggi dan menjurus keras. Kericuhan singkat pada babak pertama menjadi bukti kerasnya laga. Label pertandingan penuh dendam benar-benar terlihat. Sebab tepat satu tahun lalu, Argentina juga kalah dari Chile pada final Copa America 2015. Itu dibuktikan dengan keluarnya banyak kartu dari saku wasit Heber Lopes yang memimpin laga akibat kasarnya permainan kedua tim.
Ada 10 kartu yang diacungkan Lopes pada laga tersebut. Delapan kartu kuning diberikan, masing-masing empat untuk kedua tim. Dua kartu merah, masing-masing satu untuk kedua kesebelasan juga keluar. Sehingga kedua tim sama-sama harus bermain dengan 10 pemain.

4. Gelar Copa America di Amerika Serikat, CONMEBOL dinilai blunder
Presiden Asosiasi Sepak Bola Uruguay, AUF, Wilmar Valdez menilai Copa America tidak seharusnya digelar di Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya dalam 100 tahun, turnamen Copa America digelar di luar benua Amerika Selatan yaitu Amerika dengan mengundang enam tim tamu.

Valdez, yang juga merupakan komite eksekutif Konfederasi Sepak Bola Amerika Latin, CONMEBOL, bahkan sampai menilai bahwa mereka telah membuat kesalahan dengan mengizinkan Copa America digelar di Negeri Paman Sam. “CONMEBOL telah membuat sebuah kesalahan dengan menggelar sebuah turnamen, yang merupakan salah satu kejuaraan antartim nasional tertua di dunia, di Amerika Serikat,” ujar Valdez seperti yang dikutip oleh ESPNFC. “Ini adalah hal yang menyakitkan untuk dikatakan dan saya mengambil tanggung jawab penuh sebagai salah satu anggota dari komite eksekutif CONMEBOL”. “Saya pikir kami telah melakukan sebuah kesalahan. Hal ini mungkin baik untuk pemasaran Copa dan dari sudut pandang hiburan, tetapi tidak bagi sepak bola Amerika Selatan,” tambah dirinya.

5. Alexis Sanchez jadi pemain terbaik Copa America 2016
Pada laga di yang dilakukan di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat itu, Chile meraih gelar kampiun setelah menang adu penalti dengan skor 4-2. Usai pertandingan, sejumlah penghargaan dibagikan. Chile memborong tiga dari empat penghargaan.

Pertama, penghargaan paling bergengsi diraih oleh Alexis Sanchez yang dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen ini. Kedua, Eduardo Vargas, sebagai pencetak gol terbanyak enam gol. Terakhir, Claudio Bravo sebagai kiper terbaik. Adapun satu penghargaan yang luput didapat oleh La Roja adalah Fair play award. Argentina diputuskan menjadi pemilik penghargaan tersebut.

6. Gol tangan setan Raul Ruidiaz
Peru sukses meloloskan diri ke perempat final, setelah dalam pertandingan terakhir grup menundukkan Brasil dengan skor 1-0. Kemenangan yang diraih Peru dibuat dengan cara kontroversial. Gol dibuat Raul Ruidiaz dengan tepakan tangan. Saat pemain Peru melakukan selebrasi gol, pemain Brasil mulai melakukan protes kepada wasit dan hakim garis. Akhirnya, setelah beberapa menit, wasit Andres Cunha memutuskan gol Raul Ruidiaz sah. Namun, dalam tayangan ulang di televisi dan dalam video yang beredar di media sosial, bola terlebih dulu mengenai tangan Ruidiaz sebelum bola membentur paha pemain Peru tersebut.

7. Kesalahan memalukan yang dilakukan oleh pihak panitia
Kejadian memalukan terjadi sebelum kick off pertandingan Meksiko kontra Uruguay. Pihak panitia pertandingan salah menyetel lagu kebangsaan Uruguay, yang diperdengarkan malah lagu kebangsaan Chile. Dan terulang kembali kesalahan oleh panitia dalam seremonial pertandingan Argentina versus Chile. Saat lagu kebangsaan Chile dikumandangkan, mendadak terdengar kencang lagu “Superstars” milik penyanyi Pitbull. Pihak panitia penyelenggara pertandingan segera mematikan lagu kebangsaan Chile yang tersisipi lagu Pitbull. Walau sudah tak ada suara musik berkumandang, para pemain, ofisial serta suporter Chile bersama-sama tetap melanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan mereka.

Lionel Messi belum bisa mengakhiri nasib buruknya pada Copa America. Setelah gagal pada 2007 dan 2015, Messi kembali menjadi runner up bersama Argentina dalam gelaran Copa America Centenario 2016.

Pertandingan final Copa America 2016 harus diakhiri dengan air mata messi beserta kekecewaan masyarakat Argentina, sedangkan dilain pihak Chile merayakan kemenangan  di Stadion Nasional di Santiago yang disambut hangat oleh Presiden Chili, Michelle Bachelet.