6 Fakta Kasus Vaksin Palsu Yang Menggegerkan Masyarakat Indonesia

Beberapa hari terakhir masyarakat Indonesia dihebohkan dengan adanya kasus vaksin palsu. Pemberitaan yang menyebar bahkan menyebutkan bahwa praktik vaksin palsu sebenarnya telah cukup lama beredar di tengah masyarakat. Hal ini tentu membuat para orang tua khawatir karena dampak yang timbul dari vaksin palsu ini berujung kematian. Berikut 6 fakta dibalik terbongkarnya kasus vaksin palsu :

1. Terkuaknya kasus vaksin palsu berawal dari kematian seorang bayi usai imunisasi

Terungkapnya kasus praktik peredaran vaksin palsu berawal dari informasi masyarakat dan pemberitaan di media massa mengenai adanya seorang bayi berusia 5 bulan bernama Razqa Alkholifi Pamudji putra pasangan dari Agung Pamudji dan Ajeng Sri Septiani meninggal dunia setelah beberapa hari mengalami demam tinggi paska imunisasi. Berdasarkan informasi tersebut, penyidik Bareskrim kemudian mengumpulkan data-data dan fakta di lapangan untuk dijadikan bahan penyelidikan.

2. Tersangka Vaksin Palsu

Warga di perumahan Kemang Regency, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, dibuat heboh dengan adanya penangkapan sepasang suami istri di perumahan elite tersebut pada Selasa (21/6) malam. Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina, pasangan suami istri itu diringkus oleh Tim Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri. Ia ditangkap lantaran terlibat sindikat pemalsu vaksin balita yang berlangsung sejak tahun 2003. Dari penangkapan itu polisi membawa barang bukti berupa 36 dus vaksin atau sekitar 800-an ampul.

Selain menangkap dua pasutri itu, polisi juga mengamankan 13 orang lainnya dari berbagai tempat di Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Semarang yang merupakan jaringan berbeda.

3. Hukuman Para Tersangka Vaksin Palsu

Para tersangka dikenakan Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan denda Rp 1,5 miliar.

4. Indikasi anak yang terinfeksi vaksin palsu

dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc-VPCD, vaksinolog, mengungkapkan berbagai indikasi anak terinfeksi vaksin palsu yakni infeksi ringan dan infeksi berat (sistemik). Infeksi berat ditandai dengan demam tinggi, laju nadi meningkat, laju pernapasan meningkat, leukosit meningkat, anak tidak mau makan dan minum, sampai terjadi penurunan kesadaran. Kemudian apabila dua minggu tidak muncul gejala tersebut, kemungkinan besar anak tidak terkena infeksi. Dampak lainnya dari pembuatan vaksin palsu sebenarnya tergantung bahan apa yang digunakan.

5. Sejumlah tempat diyakini terlibat jaringan vaksin palsu

Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Tipid Eksus) Bareskrim Polri terus menyelidiki kasus pembuatan dan peredaran vaksin palsu. Sejauh ini, ada empat rumah sakit, dua apotek, dan satu toko obat yang diduga menjual vaksin palsu tersebut.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Polisi Agung Setya enggan menyebut nama rumah sakit, apotek, dan toko obat yang tengah diincarnya karena takut mengganggu proses penyelidikan.

“Kami belum bisa sebutkan. Kami masih pastikan dulu. Informasi dan datanya,” ucap Agung.

6. Pengawasan Kementerian Kesehatan Yang Lemah

Menurut Direktur Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjajarta, praktik penjualan vaksin tanpa resep dokter di sebuah apotek di Jakarta Timur seharusnya mendapat sorotan dari Kementerian Kesehatan. Sebab, mengacu pada Pasal 9 ayat Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No.35 tahun 2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek, pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Menteri ini dilakukan oleh Menteri, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

“Memang pembinaan dan pengawasannya masih sangat lemah. Obat daftar G, yang seharusnya memakai resep dokter, hanya boleh di apotek. Tapi kita lihat toko obat juga banyak yang menjual (obat daftar G),” kata Marius dengan nada tinggi.

Marius mengutarakan argumentasinya ketika ditanya mengenai pengawasan terhadap peredaran vaksin dan obat sehubungan dengan ditemukannya vaksin palsu di sebuah apotek di Jakarta Timur oleh kepolisian, pekan lalu.

Kasus pemalsuan vaksin ini harus segera dituntaskan dengan menangkap semua oknum yang terlibat agar tidak lagi meresahkan masyarakat dan Kementerian Kesehatan mesti memperkuat fungsi pengawasannya terhadap obat-obatan ataupun vaksin yang beredar di masyarakat.