Press "Enter" to skip to content

7 Hal Seputar MEA Bagi Indonesia Yang Wajib Kamu Ketahui

Comments

MEA merupakan singkatan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN yang memiliki pola mengintegrasikan ekonomu ASEAN dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas atau free trade antara negara-negara anggota ASEAN. Para anggota ASEAN termasuk Indonesia telah menyepakati suatu perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN tersebut. Berikut hal seputar MEA bagi Indonesia yang wajib kamu ketahui :

1. Pengertian MEA
MEA adalah pasar bagi 600 jutaan penduduk di kawasan Asia Tenggara atau pasar nomor 4 terbesar di dunia. Para pemimpin ASEAN sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara. Hal ini dilakukan agar daya saing ASEAN meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat. Seperti ranah ecommerce bidang industrial online misalnya, tidak menutup kemungkinan jika inilah sektor yang pertama kali dibidik oleh negara lain untuk masuk.

2. Keuntungan MEA bagi negara ASEAN
Riset terbaru dari Organisasi Perburuhan Dunia atau ILO menyebutkan pembukaan pasar tenaga kerja mendatangkan manfaat yang besar. Selain dapat menciptakan jutaan lapangan kerja baru, skema ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Asia Tenggara.

3. Keterampilan yang harus dimiliki pada era MEA
Untuk menghadapi perubahan dan tantangan baru terhadap MEA harus memiliki modal utama berupa keterampilan. Penguasaan keterampilan tertentu menjadi nilai tambah seperti kemampuan berbahasa asing dan kemampuan presentasi yang efektif sehingga tidak perlu orang lain untuk menerjemahkannya, keterampilan coding yang sangat penting ketikan ada kendala ringan tidak perlu bergantung pada tim IT, Kemampuan memecahkan masalah, hingga kepemimpinan yang baik dan mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dan progresif bagi organisasi karena seseorang tidak cukup hanya mengandalkan kerja keras dan keberuntungan.

4. Profesi yang akan bersaing di MEA
Mutual Recognition Arrangement (MRA) adalah kesepakatan di antara negara anggota ASEAN untuk membuka pergerakan tenaga kerja terdidiknya. Saat ini sudah disepakati delapan sektor, yakni jasa keinsinyuran (engineering), jasa keperawatan (nursing), arsitektur, surveyor, praktik gigi, akuntansi, jasa pariwisata, dan praktik kedokteran termasuk dokter. Saat ini ada 14 jenis profesi insinyur di Indonesia, mulai dari insinyur mesin, geodesi, teknik fisika, teknik sipil, dan teknik kimia. Para insinyur bergabung dalam organisasi profesi yang disebut Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Selain itu, Arsitek dimana lingkup pekerjaan arsitekur sangat luas dan meliputi interior, lingkup bangunan, lingkup kompleks bangunan, sampai dengan lingkup kota, dan regional. Lalu tenaga pariwisata merupakan profesi yang akan bersaing di MEA dan dibutuhkan di Indonesia karena potensi objek pariwisata Indonesia yang cukup banyak. Kemudian profesi Akuntan juga akan bersaing, mereka yang ahli di bidang akuntansi. Profesi akuntan dibedakan atas beberapa macam, di antaranya adalah akuntan publik, akuntan intern, akuntan pemerintah, dan akuntan pendidikan. Saat ini yang mengambil profesi dokter gigi di Indonesia masih sedikit, sehingga banyak peluang kerja untuk profesi yang satu ini. Dengan masuknya praktisi medis dalam daftar profesi akan bersaing di ASEAN. Selain dokter dan dokter gigi, perawat juga memiliki kesempatan kerja di seluruh negara ASEAN bila mereka memiliki kompetensi yang meyakinkan ditambah jam terbang yang lumayan tinggi.

5. Perebutan investasi asing
Akan terjadi perebutan investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) ke kawasan ini. Riset menunjukkan semakin terintegrasi ekonomi sebuah negara, dengan ekonomi global, kian besar manfaat bagi FDI, dan ini tidak memerlukan keberadaan sumber daya alam. Singapura memenangi perebutan FDI di kawasan ASEAN.

6. Persiapan Indonesia menghadapi MEA
Di semua lini, sektor jasa maupun barang, usaha besar maupun UKM, kesiapan tenaga kerja dan kualitas produk menjadi kunci memenangi persaingan. Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengatakan bahwa untuk sektor middle-low, yang akan kena imbas MEA 2015 adalah sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Menurut Hanif, Indonesia menyiapkan diri menghadapi MEA dengan menjalankan tiga hal. Pertama, percepatan peningkatan kompetensi dan daya saing. Kedua percepatan sertifikasi profesi tenaga kerja. Ketiga, pengendalian tenaga kerja asing.

7. Persaingan tenaga kerja
Munculnya pasar bebas MEA¬† khususnya sektor industri dan tenaga kerja tentu akan berpengaruh terutama pada para pekerja tenaga ahli. Berbagai profesi seperti tenaga medis dan lain sebagainya bukan tidak mungkin akan diisi oleh tenaga kerja asing. Sejumlah pimpinan asosiasi profesi mengaku cukup optimistis bahwa tenaga kerja ahli di Indonesia cukup mampu bersaing. Ketua Persatuan Advokat Indonesia, Otto Hasibuan, misalnya mengatakan bahwa tren penggunaan pengacara asing di Indonesia malah semakin menurun. Di sektor akuntansi, Ketua Institut Akuntan Publik Indonesia, Tarko Sunaryo, mengakui ada kekhawatiran karena banyak pekerja muda yang belum menyadari adanya kompetisi yang semakin ketat. Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menyatakan tidak ingin kecolongan dan mengaku telah menyiapkan strategi dalam menghadapi pasar bebas tenaga kerja. “Oke jabatan dibuka, sektor diperluas, tetapi syarat diperketat. Jadi buka tidak asal buka, bebas tidak asal bebas. Kita tidak mau tenaga kerja lokal yang sebetulnya berkualitas dan mampu, tetapi karena ada tenaga kerja asing jadi tergeser,” katanya. Sejumlah syarat yang ditentukan antara lain kewajiban berbahasa Indonesia dan sertifikasi lembaga profesi terkait di dalam negeri.

Yah semoga setelah dibukanya pasar bebas MEA tersebut berdampak positif bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia khususnya. Dan tidak ada dampak buruk yang terjadi setelah kebijakan tersebut. Siap tidak siap harus dihadapi demi kemajuan perekonomian yang lebih baik.