Perkembangan Kasus Tewasnya Tamir Race Yang Di Tembak Mati Polisi Akibat Memegang Pistol Replika

Seorang bocah berusia 12 tahun tewas ditembak Kepolisian Kota Cleveland, Amerika Serikat, setelah tampak memegang sepucuk pistol yang ternyata adalah pistol airsoft atau pistol mainan pada November tahun lalu. Namun, hingga saat ini perkembangan kasusnya masih terus berlangsung. Seperti diberitakan sebelumnya, bocah berusia 12 tahun itu meninggal dunia setelah ditembak polisi di Cleveland, Amerika Serikat. Kejadian itu terjadi pada saat polisi setempat mendapatkan laporan dari warga bahwa ada anak yang sedang membawa senjata api. Insiden itu terjadi pada ( 24/11/2014) lalu. Berikut ulasan seputar kasus Tamir Rice, bocah 12 tahun yang tewas tertembak polisi.

1. Awal Peristiwa
Tamir Rice, bocah 12 tahun, ditembak mati polisi di Cleveland, Amerika Serikat, November tahun lalu. Insiden tersebut terjadi karena polisi mengira Tamir Rice membawa senjata api sungguhan. Padahal, bocah itu hanya membawa airsoft gun atau replika. Saat kejadian, polisi tersebut dipanggil ke tempat kejadian dan menembak dua kali remaja tersebut pada Sabtu. Tembakan itu mengenai bagian perut remaja. Polisi datang ke tempat kejadian setelah menerima laporan adanya remaja yang mengacung-ngacungkan senjata. Pihak kepolisian mengatakan, pihaknya melepaskan dua kali tembakan karena bocah itu tidak mau mengangkat tangannya saat diminta. Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu sore (22/11) waktu setempat. Saat itu polisi mendapat laporan ada remaja yang menakut-nakuti pengunjung dengan sebuah pistol, namun pelapor tidak mengetahui apakah pistol tersebut asli atau bukan. Dua petugas lalu mendatangi taman lokasi kejadian dan melihat bocah menenteng senapan. Tak berapa lama, seorang petugas melepaskan tembakan dan bocah malang itu terjatuh. Usai ditembak, bocah bernama Tamir Rice itu lalu dilarikan ke rumah sakit. Tragis, sehari kemudian ia menghembuskan nafas terakhir.Sementara itu, salah satu polisi yang ketika kejadian datangi lokasi adalah polisi yang baru saja bergabung di kesatuannya. Mereka datang ke lokasi ketika itu setelah mendapat laporan 911. Saat menerima telpon 911, sempat diberi kabar kemungkinan senjata yang dipegang remaja tersebut adalah palsu. Menurut laporan tersebut, informasi yang didapat menyatakan bahwa “senjata” yang dimiliki oleh remaja tersebut adalah tipe airsoft yang mirip dengan pistol semi-otomatis.

2. Keluarga Tidak Terima
Keluarga Tamir Rice tak terima kematian anaknya itu dan menuntut keadilan. Mereka menyiapkan pengacara. Tak hanya itu, pengacara keluarga inipun akan melakukan investigasi sendiri untuk mengusut penembakan terhadap bocah keturunan Afrika – Amerika itu. Di sisi lain, pasca terjadinya penembakan itu, berbagai dukungan terhadap Tamir Rice muncul. Salah satunya, ada yang membuat fan page sosial media dengan akun Justice for Tamir Rice. Fan page itu sudah di-like kurang lebih sebanyak 1.763. Seperti diberitakan sebelumnya, bocah berusia 12 tahun itu meninggal dunia setelah ditembak polisi di Cleveland, Amerika Serikat. Kejadian itu terjadi pada saat polisi setempat mendapatkan laporan dari warga bahwa ada anak yang sedang membawa senjata api, pada ( 24/11/2014) lalu.

3. Polisi AS Sulit Bedakan Pistol Asli dan Palsu
Kepolisian Cleveland di Amerika Serikat mengaku petugasnya sulit membedakan pistol asli dan palsu dalam kasus penembakan bocah 12 tahun di sebuah taman rekreasi. Polisi akhirnya memutuskan menembak setelah bocah itu melakukan gerakan mencurigakan. Pada Senin (24/11), Kepolisian Cleveland mengatakan Tamir Rice ditembak aparat saat tangannya hendak menggapai pistol replika jenis airgun di pinggangnya. Kepala Polisi Cleveland Calvin Williams mengatakan bahwa pistol replika itu “tidak bisa dibedakan dengan pistol aslinya”. Ujung berwarna oranye yang menunjukkan bahwa pistol itu mainan juga sudah hilang. “Petugas kami saat itu harus melakukan tindakan cepat dalam hitungan detik. Sayangnya, peristiwa nahas itu terjadi,” kata Williams. Wakil Kepala Polisi Cleveland Ed Tomba membenarkan aparatnya tidak mampu membedakan pistol tersebut karena sangat mirip dengan aslinya. Kepada wartawan, Tomba memperlihatkan pistol bocah kulit hitam tersebut, sebuah replika senjata api semi-otomatis yang menembakkan peluru pellet atau BB. “Saya bisa katakan bahwa dua polisi itu tidak tahu korban berusia 12 tahun, mereka mengira dia adalah pria dewasa. Fokus mereka ada di tangan korban, karena di akademi polisi diajarkan bahwa tangan itu bisa membunuhmu,” lanjut Follmer.

4. Pembunuhan polisi: NY serukan penyelidikan independen
Samaria Rice menuntut polisi pembunuh anaknya dihukum. Jaksa Agung New York meminta gubernur untuk memberikan kewenangan menyelidiki dan menuntut polisi setempat yang membunuh warga sipil tak bersenjata. Eric Schneiderman menyebutkan peninjauan independen kasus semacam itu akan ‘memulihkan kepercayaan’ terhadap sistem peradilan. Sementara itu, keluarga seorang anak Ohio umur 12 yang dibunuh oleh polisi bulan lalu telah menyerukan agar petugas itu diadili. Protes terhadap pembunuhan oleh polisi terhadap laki-laki hitam tak bersenjata terus berlangsun pada hari Minggu (07/12) dan berbuntut kekerasan di California. Sementara itu Samaria Rice -ibu dari Tamir Rice, anak 12 tahun yang ditembak mati pada tanggal 22 November oleh ploisi Cleveland, Ohio- berbicara secara terbuka untuk pertama kalinya dan menuntut agar polisi yang menembak anaknya dihukum.

5. Hasil Penyelidikan: Penembakan Remaja di Ohio oleh Polisi Bisa Dibenarkan
Tindakan polisi kulit putih di Ohio yang menembak mati seorang remaja kulit hitam AS berusia 12 tahun November 2014 lalu bisa dibenarkan, menurut dua penyelidikan independen. Dua penyelidikan yang dilakukan badan di luar kepolisian mendapati bahwa tindakan seorang polisi kulit putih di Ohio yang menembak mati seorang remaja kulit hitam berusia 12 tahun yang membawa senjata mainan bulan November 2014 lalu bisa dibenarkan. Tamir Rice tewas ditembak di luar pusat rekreasi di Cleveland akhir tahun lalu. Timothy Loehmann yang sedang menjalani latihan sebagai perwira polisi, menembak Tamir Rice beberapa saat setelah tiba di lokasi, menyusul adanya telfon yang mengatakan ada seorang laki-laki membawa senjata. Pihak berwenang mengatakan senjata itu adalah pistol mainan dengan peluru-peluru plastik, tetapi bagian-bagian berwarna oranye yang menunjukkan pistol itu adalah pistol mainan telah dicabut. Laporan itu dikeluarkan hari Sabtu (10/10) oleh Kantor Jaksa Cuyahoga County menjelang sidang juri agung untuk menentukan apakah polisi itu akan dituntut karena kematian Rice. Pengacara keluarga Rice mengecam laporan itu sebagai “whitewash” atau usaha menutup-nutupi kenyataan.

6. Dewan Juri AS Cabut Dakwaan atas Polisi terkait Tewasnya Remaja 12 Tahun
Grand Jury (Dewan juri pengadilan) di kota Cleveland, Ohio, memutuskan untuk tidak mendakwa dua petugas polisi dalam kasus penembakan bulan November 2014 terhadap seorang remaja kulit hitam berusia 12 tahun, yang ternyata membawa sebuah pistol mainan. Jaksa Cleveland Tim McGinty mengumumkan keputusan Senin sore (28/12), menutup satu tahun kontroversi dan protes para aktivis serta lainnya yang dikejutkan dengan rekaman video penembakan itu. Ia mengatakan Grand Jury “tidak menemukan bukti-bukti tindak pidana oleh polisi”. Rekaman video itu menunjukkan petugas patroli Timothy Loehmann menembak mati Tamir Rice hanya beberapa detik setelah tiba dengan mobil polisi untuk mengkonfrontir remaja tersebut. Polisi dikirim ke tempat kejadian setelah seorang penelepon memberitahu polisi tentang seorang pria membawa pistol. Grand Jury juga menolak mendakwa polisi yang mengemudikan kendaraan, Frank Garmback. Pihak berwenang kemudian menemukan bahwa pistol yang dipegang Tamir Rice adalah pistol mainan dengan peluru karet. Mereka juga menemukan bahwa tanda warna oranye dari pabrik yang menandakan pistol itu mainan telah dihapus. Asisten jaksa, Matthew Meyer, mengatakan Tamir Rice terlihat berulang kali menyampirkan dan mencabut pistol dari pinggangnya selama beberapa jam sebelum konfrontasi mematikan itu terjadi. Selama beberapa bulan penyelidikan penembakan itu berlangsung, para penyidik di luar pihak berwenang mengatakan “wajar bagi setiap petugas” untuk yakin bahwa senjata yang dipegang Tamir Rice adalah senjata api, dan tindakan yang diambil berdasarkan hal itu bisa masuk akal. Kematian Tamir Rice merupakan salah satu dari serangkaian besar pembunuhan polisi terhadap warga kulit hitam Amerika yang menjadi kecaman terhadap polisi dan memicu protes nasional yang dipimpin aktivis “Black Lives Matter” dan para pendukungnya selama satu tahun belakangan.

Semoga kejadian tersebut tidak terulang kembali. Keadilan dapat di tegakkan seadil- adilnya sesuai hukum yang berlaku. Semoga kasusnya segera menemui titik terang.