10 Tradisi Unik Perayaan Maulid Nabi Nusantara Yang Menjadi Budaya Turun Temurun

Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi Muhammad yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah, dirayakan dengan berbagai cara oleh umat Islam di Indonesia. Ragam perayaan itu umumnya berakar dari kebiasaan dan adat istiadat daerah setempat. Yang umum adalah dengan menggelar pengajian di masjid-masjid, menggelar lomba yang berhubungan dengan Islam, seperti lomba baca Alquran, lomba azan, ceramah agama hingga lomba qasidah. Ada juga sebagian masyarakat yang berkunjung ke makam para wali. Selain itu disejumlah daerah memiliki perayaan yang unik dan berbeda dibandingkan daerah lainnya. Berikut tradisi unik perayaan Maulud di berbagai daerah di Nusantara :

1. Tradisi Muludhen

Tradisi Muludhen
Tradisi muludhen digelar oleh warga Madura saat merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam acara itu biasanya diisi dengan pembacaan barzanji (riwayat hidup Nabi) dan sedikit selingan ceramah keagamaan yang menceritakan kebaikan Sang Nabi semasa hidupnya untuk dijadikan sebagai tuntunan hidup. Tepat tanggal 12 Rabiul Awal, masyarakat akan berduyun-duyun datang ke masjid untuk melakukan tradisi muludhen. Biasanya para perempuan datang ke masjid dengan membawa talam yang di atasnya berisi tumpeng. Di sekeliling tumpeng tersebut dipenuhi beragam buah yang ditusuk dengan lidi dan dilekatkan kepada tumpeng. Pada saat pembacaan barzanji, tumpeng-tumpeng tersebut dijajarkan di tengah orang-orang yang melingkar untuk didoakan. Setelah selesai, tumpeng-tumpeng itu kemudian dibelah-belah dan dimakan bersama-sama. Para perempuan biasanya tidak ikut membaca barzanji, mereka hanya menyiapkan makanan untuk kaum laki-laki.

2. Tradisi Bungo Lado

Tradisi Bungo Lado
Tradisi Bungo Lado (berarti bunga cabai) adalah tradisi yang dimiliki warga Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Bungo lado merupakan pohon hias berdaunkan uang yang biasa juga disebut dengan pohon uang. Uang kertas dari berbagai macam nominal itu ditempel pada ranting-ranting pohon yang dipercantik dengan kertas hias. Dalam tradisi bungo lado ini sebagian warga perantau menyumbang untuk pembangunan rumah ibadah di daerah itu. Pohon uang dari beberapa jorong (dusun) itu kemudian akan dikumpulkan kemudian disumbangkan untuk pembangunan rumah ibadah. Tradisi maulid ini biasanya digelar secara bergantian di beberapa kecamatan. Tradisi bungo lado ini terkait erat dengan profesi petani warga di Sumatera Barat. Di antara hasil tani tersebut adalah tanaman cabai yang bagi masyarakat Minangkabau disebut dengan lado. Cabai atau lado sebelum berbuah akan berbunga terlebih dahulu. Semakin banyak bunganya tentu akan semakin banyak pula buahnya. Dalam hal ini, sumbangan uang diumpamakan dengan bunga cabai tersebut. Sumbangan bungo lado ini merupakan simbol dari rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah.

3. Tradisi Ngalungsur Pusaka

Tradisi Ngalungsur Pusaka
Tradisi Ngalungsur Pusaka, yaitu proses upacara ritual dimana barang-barang pusaka peninggalan Sunan Rohmat (Sunan Godog/Kian Santang) setiap setahun sekali dibersihkan atau dicuci dengan air bunga-bunga dan digosok dengan minyak wangi supaya tidak berkarat. Tradisi ini dilakukan di Garut, Jawa Barat yang difokuskan di Kampung Godog, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan. Di tempat lain seperti Banten, kegiatan difokuskan di Masjid Agung Banten. Demikian pula di tempat-tempat ziarah makam para wali, tradisi ini juga digelar. Upacara yang dilakukan oleh juru kunci ini merupakan bukti bahwa mereka masih melestarikan dan melaksanakan tradisi leluhurnya serta mensosialisasikan keberadaan benda-benda pusaka peninggalan Sunan Rohmat Suci. Pusaka tersebut merupakan simbol perjuangan dan perilaku Sunan Rohmat Suci semasa hidupnya dalam memperjuangkan agama Islam. Benda-benda pusaka tersebut dicuci dengan disaksikan oleh peserta upacara.

4. Tradisi Kirab Ampyang

Tradisi Kirab Ampyang
Warga di Loram Kulon, Jati, Kudus, Jawa Tengah, juga memiliki tradisi tersendiri. Mereka melakukan kirab Ampyang di depan Masjid Wali. Pada awalnya kegiatan ini merupakan media penyiaran agama Islam di wilayah tersebut. Tradisi itu dilakukan oleh Ratu Kalinyamat dan suaminya Sultan Hadirin. Tradisinya dengan menyajikan makanan yang dihiasi dengan ampyang atau nasi dan krupuk yang diarak keliling Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, sebelum menuju ke Masjid Wali At Taqwa di desa setempat. Setelah sampai di Masjid Wali, tandu yang berisi nasi bungkus serta hasil bumi yang sebelumnya diarak keliling desa didoakan oleh ulama setempat, kemudian dibagikan kepada warga setempat untuk mendapatkan berkah.

5. Tradisi Keresen

Tradisi Keresen
Tradisi yang tidak kalah unik adalah Keresen, yaitu merebut berbagai hasil bumi dan pakaian yang digantung pada pohon keres. Tradisi ini dilakukan oleh sejumlah warga di Dusun Mengelo, Mojokerto, Jawa Timur. Berbagai hadiah tersebut melambangkan bahwa semua pohon di muka bumi sedang berbuah menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw. Tradisi Keresan ini digelar setiap tahun untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pohon Keres berbuah lebat oleh aneka hasil bumi sebagai simbol kelahiran Muhammad membawa berkah bagi umat Islam di seluruh dunia. Tradisi keresen juga dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas lahirnya Nabi Muhammad yang memberikan petunjuk ke jalan yang benar, yakni ajaran Islam.

6. Tradisi Panjang Jimat

Tradisi Panjang Jimat
Panjang Jimat adalah tradisi Maulid Nabi di Keraton Cirebon. Upacara dihadiri ribuan masyarakat yang berdatangan dari berbagai daerah. Mereka sengaja datang ke keraton hanya untuk menyaksikan proses upacara. Peringatan Maulid Nabi juga turut digelar di makam Sunan Gunung Jati, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Di makam tersebut juga dipadati oleh ribuan orang yang sengaja ingin menghabiskan waktu pada malam Maulid Nabi. Upacara panjang jimat merupakan puncak acara peringatan Maulid Nabi di 3 keraton. Di keraton Kanoman, upacara digelar sekira pukul 21.00 WIB yang ditandai dengan 9 kali bunyi lonceng Gajah Mungkur yang berada di gerbang depan keraton. Suara lonceng tersebut merupakan tanda dibukanya upacara panjang jimat. Di Keraton Kanoman, prosesi panjang jimat juga diisi dengan arak-arakan kirab yang membawa berbagai benda pusaka milik keraton dari Bangsal Prabayaksa menuju Masjid Agung Kanoman. Prosesi itu dipimpin oleh Pangeran Patih Keraton Kanoman. Upacara Panjang Jimat, yakni memandikan pusaka-pusaka keraton peninggalan Sunan Gunung Jati. Banyak orang berebut untuk memperoleh air bekas cucian tersebut, karena dipercaya akan membawa keberuntungan.

7. Tradisi Sekaten dan Grebeg Maulud

Tradisi Sekaten dan Grebeg Maulud
Di Yogyakarta, dan Surakarta, perayaan maulid dikenal dengan istilah Grebeg Maulud. Grebeg Maulud adalah serangkaian acara dalam Sekaten. Istilah ini berasal dari kata syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat. Pada tanggal 5 bulan Maulud, kedua perangkat gamelan, Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu, dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di bangsal Sri Manganti, ke Bangsal Ponconiti dan mulai dibunyikan. Pada umumnya, masyarakat yang datang berkeyakinan bahwa dengan turut berpartisipasi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini yang bersangkutan akan mendapat imbalan pahala dari Yang Maha Kuasa, dan dianugrahi awet muda. Sebagai “Srono” (Syarat) nya, mereka harus menguyah sirih di halaman Masjid Agung, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan sekaten. Puncak dari sekaten disebut dengan Grebeg Maulud. Kata ‘gerebeg’ artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Gunungan dibuat dari makanan seperti sayur2an, kacang, lada merah, telor, dan beberapa pelengkap yang terbuat dari beras ketan. Dibentuk menyerupai gunung, melambangkan kemakmuran dan kekayaan tanah mataram. Puncak dari upacara ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masdjid Agung. Setelah di masjid diselenggarakan doa dan upacara persembahan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagian gunungan dibagi-bagikan pada masyarakat umum dengan jalan diperebutkan. Bagian-bagian dari gunungan ini umumnya dianggap akan memperkuat tekad dan memiliki daya tuah, terutama bagi kaum petani. Mereka akan menanamnya di lahan persawahan untuk memperkuat doa agar lahannya menjadi subur dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman.

8. Tradisi Maudu Lompoa

Tradisi Maudu Lompoa
Di Cikoang, Takalar, Sulawesi Selatan ada sebuah tradisi menyambut Maulid Nabi, yaitu diadakanya tradisi Maudu Lompoa Cikoang (dalam bahasa Makassar). Tradisi ini merupakan perpaduan dari unsur atraksi budaya dengan ritual-ritual keagamaan yang digelar setiap tahun di bulan Rabiul Awal berdasarkan Kalender Hijriyah. Yang unik dari tradisi ini adalah persiapannya yang memakan waktu 40 hari. Tradisi diawali dengan mandi di bulan Syafar yang dipimpin para sesepuh atau tetua. Pada hari H perayaan Maudu Lompoa, masyarakat Cikoang yang berpakaian adat berjalan beriringan sampil memikul julung-julung. Nantinya julung-julung tersebut akan di perebutkan oleh semua orang. Julung-julung yang diperebutkan berisi telur hias, ayam, beras dimasak setengah matang, beras ketan, mukena, kain khas Sulawesi serta aksesoris lainnya. Agar lebih indah, julung-julung dilengkapi dengan kibaran kain khas Sulawesi warna-warni bak bendera terpasang di atas perahu. Julung-julung diletakkan di depan semua orang.

9. Tradisi Sokok Basa

Tradisi Sokok Basa
Masyarakat Muslim di Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng, Bali melestarikan budaya leluhur ketika menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Salah satu tradisi khas, hanya di Pegayaman yakni Sokok Basa, sebuah bebantenan yang terdiri dari telur ditusuk-tusuk dan diletakkan di atas pajegan. Sebuah rangkaian bambu yang dihiasi bunga-bunga dan buah-buahan di bawahnya. Saat takmir masjid, kalangan warga mencabut sebutir telur dan menyerahkannya kepada pria pengantar Sokok Basa dimana penyerahan Sokok Basa merupakan bagian dari tradisi Maulid Basa, rangkaian perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebutir telur yang diberikan kembali itu adalah upah bagi pengantarnya dan ada kebanggaan sendiri menyimpan telur itu di rumah warga masing-masing. Di sela penyerahan sokok, Sekaa Hadrah menari tarian silat sembari diiringi tetabuhan rebana di depan masjid. Ada lima Sekaa Hadrah di Pegayaman sesuai banjarnya. sejumlah pria berlalu-lalang sembari membawa bungkusan-bungkusan makanan untuk dikumpulkan di dalam masjid. Bungkusan yang berisi makanan tersebut dimasak ibu-ibu desa di rumah ketua adat sembari dihibur Sekaa Burdah. Usai semua terkumpul, masyarakat melaksanakan zikir maulid di dalam masjid, ceramah keagamaan, dan setelah seluruh seremoni dilalui, telur-telur di Sokok Basa itu dibagikan bersamaan dengan makanan yang telah dimasak sebelumnya. Perlambangan telur itu adalah masjid, di dalamnya ada sari, Alquran dan penyangganya umat, dikokohkan dengan kebersamaan umat. Di pajegan mita, bunga basa, di bawahnya ada buah. Ini sebuah akuluturasi budaya Bali dan Pegayaman, ketika budaya Bali masuk Pegayaman. Perayaan Maulid ini telah berlangsung selama dua pekan. Tujuh Sekaa Wirid setiap malam bergantian membaca syair-syair di dalam masjid.

10. Tradisi Weh wehan atau Ketuwinan

Tradisi Weh wehan atau Ketuwinan
Dalam menyambut maulud Nabi Muhammad SAW, masyarakat Kaliwungu di Kendal, Jawa Tengah, melakukan tradisi Weh wehan atau Ketuwinan.  Mereka berkunjung kepada tetanga ataupun kerabat, serta saling memberikan makanan. Weh wehan mulai dilakukan usai Ashar hingga esok harinya. Tradisi itu dilakukan oleh para ulama penyebar agama Islam di Kaliwungu sekitarnya, dengan tujuan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Istilah weh wehan berasal dari kata weweh (Bahasa Jawa) yang berarti memberi, sedangkan istilah ketuwinan berdasar dari kata tuwi atau tilek (Bahasa Jawa). Artinya menengok atau berkunjung atau silaturahmi. Jadi weh wehan atau ketuwinan artinya memberi atau berkunjung atau bersilaturohim kepada tetangga, teman, kerabat, atau saudara. Masyarakat Kaliwungu menyiapkan berbagai makanan tradisional yang dihidangkan di depan rumah masing-masih. Mereka seperti berjualan. Tetangga yang berkunjung untuk memberi makanan, akan diganti dengan makanan miliknya. Makanan tradisional yang dihidangkan, adalah Sumpil. Sumpil terbuat dari nasi yang dibungkus oleh daun bambu (seperti ketupat) berbentuk segita. Cara memakannya dicampur dengan sambal kelapa.

Mungkin masih banyak lagi tradisi yang unik yang ada di Indonesia. Indonesia memang memiliki keberagaman budaya dan adat istiadat yang cara merayakan Maulid Nabi berbeda – beda. Semoga budaya ini tidak pernah hilang dan tetap terus dilestarikan.