Pro dan Kontra Terkait Keputusan Pemerintah Turunkan Harga BBM Menjelang Akhir Tahun

Pemerintah akhirnya mengumumkan penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Rabu  (23/12), untuk premium dan solar mulai 5 Januari 2016. Landasannya adalah, harga minyak dunia yang turun, serta nilai tukar rupiah yang cukup terjaga stabil dalam tiga bulan terakhir. Menteri Energi dan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar masing-masing menjadi Rp7.150 dan Rp5.950 per liter. Seperti diketahui harga minyak dunia terus merosot hingga tercatat hari ini berada pada posisi USD36,11 per barel, setelah sebelumnya sempat turun hingga USD35,98. Selain harga minyak dunia, kurs nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang terus menguat meski masih betah di atas level Rp13.600/USD juga jadi unsur pertimbangan. Berikut beberapa ulasan seputar dibalik turunya harga bbm menjelang akhir tahun ini.

1. Harga Premium Turun Jadi Rp 7.150, Solar Jadi Rp 5.950
Pemerintah akhirnya menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) premium dan solar, Rabu (23/12/2015). Harga premium menjadi Rp 7.150 per liter dan solar menjadi Rp 5.950 per liter. Sebelumnya, harga premium Rp 7.400 per liter, sedangkan harga solar Rp 6.700 per liter. Harga baru itu mulai berlaku pada 5 Januari mendatang. Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, harga keekonomian premium saat ini sebenarnya ada di level Rp 6.950 per liter menyusul turunnya harga minyak dunia. Namun, pemerintah kemudian menambah Rp 200 dari nilai keekonomian itu untuk dibebankan kepada rakyat. Tambahan biaya ini merupakan dana untuk program energi terbarukan yang sedang dikembangkan pemerintah. Sementara itu, untuk solar, kata Sudirman, nilai keekonomian saat ini berskisar Rp 5.650 per liter. Namun, pemerintah menambah biaya Rp 300 untuk energi terbarukan sehingga harga solar menjadi Rp 5.950. Ia menegaskan, harga solar turun lebih besar mengingat solar sebagian besar dikonsumsi untuk angkutan umum dan industri. Sehingga, dampak yang ditimbulkan lebih besar dan memberikan multiplier effect yang lebih besar terhadap perekonomian
di Indonesia.

2. Menteri ESDM beberkan alasan harga bbm turun

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said membeberkan alasan terkait harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang segera turun signifikan mulai 5 Januari 2016. “Tahun ini kita menyaksikan berbagai kebijakan yang dirasa semakin memberikan efisiensi,” kata Sudirman Said dalam jumpa pers setelah sidang kabinet paripurna yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kantor Presiden Jakarta, Rabu. Ia mengatakan dari tiga komponen pembentuk harga BBM seluruhnya memungkinkan bagi penurunan harga solar dan premium secara signifikan. Tiga komponen pembentuk harga BBM yakni harga minyak dunia, kurs mata uang, dan efisiensi mata rantai pasokan yang 97 persen dikelola Pertamina memungkinkan bagi diturunkannya harga BBM. Sudirman menjelaskan, keputusan tersebut didasari pada stok BBM yang masih cukup banyak di distributor BBM atau SPBU. Saat ini stok BBM di SPBU cukup banyak untuk mengamankan pasokan BBM jelang Natal hingga Tahun Baru. “Kita mau beri kesempatan kepada distributor, SPBU dan distributor menghabiskan stok dengan harga lama, sehingga tidak mengali kerugian,” katanya. Ia menambahkan, kebijakan ini diharapkan dapat memberikan stimulus pertumbuhan ekonomi di akhir 2015 dan awal tahun 2016. Bahkan bukan sekadar memenuhi nilai keekonomian, harga BBM mulai tahun depan sudah termasuk pungutan dana ketahanan energi dimana untuk solar sebesar Rp300 perliter dan untuk premium Rp200 perliter. Seputar pungutan dari setiap liter bahan bakar solar maupun Premium, Sudirman Said menjelaskan, pungutan ini merupakan implementasi Pasal 30 Undang-undang No. 30 tahun 2007. Dalam pasal itu disebutkan, pemerintah harus menerapkan premi atas pengurasan energi fosil untuk pengembangan energi terbarukan. Kebijakan ini diterapkan menurut Sudirman, karena harga minyak dunia sedang turun. Pemerintah menarik pungutan ini untuk memupuk dana ketahanan energi, yang akan digunakan untuk pengembangan energi terbarukan supaya Indonesia tak bergantung kepada energi fosil.

3. Tanggapan Pertamina Terkait Turunnya Harga BBM

Pemerintah telah mengumumkan harga baru bahan bakar minyak (BBM). Untuk solar turun sekitar Rp 500/liter dan Premium turun kurang dari Rp 500/liter. Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengakui, pemerintah dan Pertamina sedang membahas penentuan harga baru BBM per Januari 2016. Apapun keputusan pemerintah, pihak Pertamina siap menjalankan. Tapi, Pertamina punya harapan terhadap Pemerintah agar mempertimbangkan keputusan untuk menurunkan harga BBM, karena ketika harga minyak naik, sulit untuk menaikkan harga BBM kembali. “Tentunya pemerintah punya banyak pertimbangan. Kami dari Pertamina hanya mengharapkan agar pemerintah mempertimbangkan juga sifat non-elastisnya harga BBM terhadap inflasi, serta sulitnya menaikkan harga bila nanti harga crude (minyak mentah) naik lagi,” kata Bambang, kepada salah situs online, Rabu (23/12/2015). Menangapi hal ini, Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro saat dihubungi awak media mengatakan penurunan harga yang dilakukan pemerintah mengacu pada harga minyak mentah dunia. Menurutnya, penurunan harga untuk awal tahun diberlakukan hanya untuk BBM khusus penugasan. Hal yang dimaksud dengan BBM khusus penugasan sendiri merupakan BBM yang formula harga jualnya ditetapkan pemerintah. Hal ini menyangkut harga dasar ditambah Pajak Pertambahan Nilai (PPN), ditambah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), kemudian ditambah lagi dengan margin atau biaya distribusi badan usaha.

4. Turunkan Harga BBM, DPR Sebut Jokowi Beri Kado Indah Tahun Baru


Anggota Komisi XI DPR M Misbakhun menyambut baik langkah pemerintah yang menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Politikus Partai Golkar menyebut, penurunan harga BBM sebagai kado indah yang baik untuk rakyat dalam menyambut tahun baru. Menurutnya meski penurunan harga BBM dilakukan dalam sekala kecil, namun kebijakan itu perlu diapresiasi. Pasalnya, dibutuhkan keberanian untuk menurunkan harga BBM tersebut. “Saya mengapresiasi langkah pemerintah terkait penurunan harga BBM tersebut sebagai sebuah langkah politik yang berani dan berpihak pada rakyat kecil. Ini adalah bentuk kepedulian pemerintah yang peka terhadap keinginan rakyat,” ujarnya. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar itu menambahkan, terkait penurunan harga BBM kategori premium dan solar dianggap tepat. Karena dengan kebijakan itu akan memicu daya beli masyarakat dan menghidupkan kembali sektor industri kecil. “Dan secara makro mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ucapnya. Bukan itu saja Dia juga menilai, penurunan harga BBM tersebut juga dipandang sejalan dengan sikap partai Golkar yang menghendaki harga BBM bisa turun seiring anjloknya harga minyak di dunia.

5. Harga BBM Turun, Darmin: Ini Bukti Kejelasan Pemerintah

Menko Perekonomian, Darmin Nasution menegaskan, hal tersebut merupakan kejelasan terhadap publik. Saat kedua indikator‎ mendukung harga BBM lebih rendah, maka langsung dieksekusi oleh pemerintah. “Ini kejelasan pemerintah, kalau harga keekonomian turun pemerintah akan menurunkan harga BBM-nya. Perubahan jadi hal yang rutin saja, tidak membuat pengertian ini sulit dan diperdebatkan, sudah saja hitung-hitungannya teknis saja, berapa harga crude (minyak mentah), kurs, berapa yang mesti diimpor, berapa yang dihasilkan sendiri, keluar angkanya”‎ kata Darmin, di kantornya, Jakarta, Rabu (23/12/2015). Darmin menambahkan, perubahan ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap daya beli masyarakat. Khususnya solar, sebab konsumsinya terkait dengan angkutan umum dan industri.‎ Meski harus dihitung kembali porsi inflasinya secara tahunan.

6. Buruh tuding penurunan harga BBM untuk tutupi kerugian Pertamina
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menuding rencana Pemerintah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hanya untuk menutupi kerugian PT Pertamina (Persero) yang mencapai Rp 12 triliun. Menurut dia, kerugian Pertamina bukan karena penjualan Premium tetapi adanya kesalahan manajemen. “Kita tidak ingin ketika pemerintah merubah harga BBM, itu mengkaitkan dengan kerugian Pertamina. Karena itu adalah miss management, korupsi, tata kelola yang tidak baik, sistem distribusi yang panjang, masih impor yang berlebihan, tidak membangun kilang baru, itu kesalahan management, itu mengakibatkan kerugian,” ujar Said kepada wartawan saat acara catatan akhir tahun di Jakarta, Rabu (23/12).

Semoga pemerintahan kita kedepan dapat berjalan lebih baik lagi. Kepeutusan yang saat ini sedang dicanangkan, semoga dapat mengurangi beban masyarakat kecil. Nmaun, sebagai masyarakat kita juga harus memanfaatkan hal tersebut dengan semaksimal mungkin. Bagaimanpun keputusan pemerintah itu pasti adalah keputusan terbaik yang sudah dipertimbangkan oleh pihak terkait.