7 Fakta Terkait Problematika MetroMini Yang Tak Layak Jalan

MetroMini sangat terkenal di kawasan Jakarta. Hampir tidak ada orang yang tidak tahu MetroMini, ini dikarenakan MetroMini merupakan salah satu angkutan murah di Jakarta yang tarif per orang hanya Rp 4000,00 dan pelajar Rp 2000,00. MetroMini juga terkenal akan kebrutalan supirnya, kaca yang biasanya ditempeli stiker dan juga armadanya yang sebenarnya sudah banyak tidak layak lagi untuk mengangkut penumpang.

1. MetroMini Rekor Kecelakaan
Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak MetroMini mengalami kecelakaan dan tidak jarang menimbulkan korban jiwa. Banyak kasus seperti MetroMini menerobos pintu perlintasan kereta Angke, Jakarta Barat pada Minggu 6 Desember 2015. Angkutan itu lalu menabrak Commuter Line di perlintasan sebidang, Angke, Jakarta Barat. Akibat kecelakaan itu, 1 gerbong kereta rusak. Tidak ada penumpang kereta yang menjadi korban dalam kecelakaan itu. Sementara badan bus MetroMini ringsek tertabrak kereta yang melintas dan mengakibatkan 18 penumpangnya meninggal dunia, termasuk sang sopir. Kasus lain MetroMini melaju dari arah Kembang Kerep, Jakarta Barat, menuju Srengseng dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba pengemudi tidak bisa mengendalikan busnya, sehingga menabrak tiang listrik. Kemudian menabrak seorang ibu dan anaknya yang sedang berjalan kaki dan anak tersebut tewas ditempat sementara sang ibu luka – luka dan masih banyak lagi kasus kecelakaan MetroMini lainnya.

2. MetroMini Jadi Primadona era 1960-an
Jika saat ini MetroMini identik dengan segala hal negatif, baik kondisi kendaraan maupun perilaku awaknya, tidak demikian di era 1960-an. Saat itu, di Jakarta sedang ada kegiatan pekan olahraga Games of the New Emerging Forces (GANEFO). Presiden Soekarno meminta pemerintahan daerah untuk menyiapkan angkutan sejenis bus sebagai sarana transportas guna mengangkut para atlet. Sementara saat itu, di Jakarta hanya ada oplet dan tidak cukup untuk mengangkut para atlet. Setelah event olahraga itu selesai, ternyata perusahaan beberapa bus mengaku tidak bisa mengelola kemudian dibuat menjadi PT dengan nama PT MetroMini yang sudah mencapai 1000 armada. Selain mudah ditemui para penumpang juga senang dengan moda transportasi ini karena tarifnya lebih merakyat dibanding yang lain.

3. Peringkat Pertama Penyebab Macet
Tidak heran jika MetroMini dianggap penyebab kemacetan utama di Jakarta. Sopir dan kenek MetroMini yang kerap menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat serta ulah supir yang sering mengendarai bus dengan ugal-ugalan dan melanggar lalu lintas menjadi faktor utama kemacetan. Belum lagi dengan armada yang layak jalan dan sopir ugal – ugalan sering menimbulkan kecelakaan sehingga menimbulkan kemacetan dimana – mana.

4. Kontributor Asap Knalpot Terbesar
Lantaran sebagian besar mesin MetroMini tidak diurus danĀ  dirawat dengan baik, maka tidak heran jika mini bus berwarna biru-oranye itu menghasilkan asap knalpot hitam pekat. Asap knalpot tersebut memicu pencemaran udara yang menimbulkan berbagai macam penyakit khususnya pernafasan. Kandungan asap knalpot menyimpan zat-zat berbahaya seperti sesak napas, pusing, mengganggu metabolisme tubuh, merusak sistem pencernaan dan pernapasan serta menggangu tingkat kecerdasan (IQ) anak.

5. 90 Persen MetroMini Tidak Layak Jalan
Saat ini jumlah MetroMini di Jakarta sekitar 3.000 buah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.600 kendaraan di antaranya sudah dicabut izin trayeknya dan dikarantina karena tidak boleh lagi berkeliaran di jalanan Jakarta. Sayangnya, sebanyak 1.600 bus tersebut tidak bisa dibuang dan hanya bisa ditampung saja. Pemprov DKI tidak memiliki hak untuk membuang atau menghancurkannya karena kepemilikannya perorangan. Dari sisa 1.400, 90 persen di antaranya berada dalam kondisi tidak layak jalan. Berdasarkan Perda No.5 tahun 2014, usia maksimal bus, baik ukuran besar, sedang, dan kecil, hanya 10 tahun. Sedangkan MetroMini rata – rata telah berumur 30 tahun dan tidak dirawat. Seharusnya sudah diganti dengan armada baru seperti Transjakarta.

6. MetroMini Mogok Massal
Aksi mogok yang dilakukan oleh para sopir MetroMini di sejumlah terminal tidak mendapat simpati dari berbagai pihak. Demo mogok tersebut sebagai bentuk protes pengusaha Metro Mini lantaran Dinas Perhubungan Jakarta mengandangi bus-bus MetroMini, karena dinilai sudah tidak layak mengangkut penumpang dan sering memakan korban di jalan raya. Aksi mogok tersebut ditanggapi dengan baik Pemprov DKI dengan menyediakan alternatif transportasi untuk memenuhi kebutuhan warga DKI, salah satunya dengan mengganti bus MetroMini dengan bus sekolah. Selain itu Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansah menyatakan pihaknya akan terus melakukan pemantauan terhadap Metro mini. Aksi mogok sopir Metro Mini di beberapa titik kemarin tidak membuat Pemerintah Provinsi DKI berhenti melakukan penertiban. Pemerintah telah berkerjasama dengan perusahaan bus Mayasari dan bus Express untuk mengganti trayek MetroMini yang mogok. Andri menyebutkan perusahaan bus Mayasari menyediakan 150 bus besar, sementara bus Express menyediakan 50 bus pariwisata. Pasca mogok massal sopir MetroMini tersebut, kini beberapa armada telah diperbaiki dan sudah dilengkapi spidometer serta rem tangan. Selain itu sebagian sopir telah melengkapi data diri seperti Kartu Pengenal Pengemudi (KPP) dan armada telah di uji kelayakannya dan cek fisik (kir).

7. MetroMini Gabung Dengan Transjakarta
Beberapa perwakilan MetroMini akhirnya mau diajak bergabung dengan PT Transjakarta setelah sebelumnya sempat alot ketika diajak kerjasama. Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansyah mengatakan beberapa operator yang mau bergabung diantaranya Mayasari, Sinar Jaya, PPD dan beberapa perwakilan pemilik MetroMini. Beberapa pemilik bus ini dipastikan bergabung dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang membawahi PT Transjakarta. Setelah bergabung maka pemilik akan beroperasi dengan bus Kopaja AC di trayek sebelumnya. Terkait masih adanya MetroMini yang alot diajak bergabung. Pihak Dishub akan membiarkannya dan masyarakat pasti lebih mengerti armada yang mana yang lebih layak sehingga akan mati secara perlahan.

Semoga kebijakan pemerintah terhadap MetroMini tidak merugikan berbagai kalangan dan memberikan alternatif terbaik guna memberikan fasilitas transportasi umum kepada masyarakat.