Press "Enter" to skip to content

7 Tragedi Fanatisme Suporter Yang Berakhir Kematian

Comments

Sepakbola Indonesia, dari hiburan rakyat kini telah menjadi tragedi. Fanatisme buta menjadi akar permusuhan antar suporter selama lebih dari satu dekade ini, dan balas dendam menjadi bumbu penyedap dari cerita “heroik” para suporter. Kasus kematian dan bentrokan Supporter Indonesia tidak henti-hentinya menghiasi sepakbola Indonesia, berikut kasus-kasus tersebut:

1. Aremania Meninggal di Sragen
Suporter sepak bola, Bonek Persebaya dengan pendukung kesebelasan Arema Malang, Aremania, terlibat bentrok dalam perjalanan menuju Sleman, Yogyakarta. Tawuran 2 suporter fanatik itu terjadi di 2 titik berbeda di Kabupaten Sragen Jawa Tengah. 2 orang dilaporkan tewas. Menurut Kasat Sabhara Polres Sragen AKP Hartono, kerusuhan 2 suporter  terjadi di SPBU Jatisumo Ngampal Sragen dan bengkel batas kota Nglorok Sragen, sekitar pukul 04.15 WIB, Sabtu pagi (19/12/2015). “Korban meninggal adalah suporter Arema Malang yakni Eko Prasetyo (30) warga RT 19/04 Pandesari Batu Malang dan sopir Suzuki Carry, Slamet warga Malang. Kedua korban ini, kini masih di RSU Sragen,” ujar Hartono sebagaimana dikutip dari Antarnews. Hartono menuturkan, rombongan Aremania sebanyak 34 orang menumpang bus pariwisata dari Malang menuju Sleman, hendak mendukung timnya berlaga. Kebetulan rombongan suporter Bonek juga melintas dengan menumpang 4 truk. Rombongan Bonek tersebut kemudian turun dari kendaraannya dan langsung menyerang  Aremania yang menyebabkan 1 korban meninggal akibat dikeroyok. Sementara itu, lanjut Hartono, satu rombongan suporter Arema dengan menumpang Suzuki Carry berpenumpang 7, juga digeruduk rombongan Bonek saat tiba di Nglorok, Sragen. Suporter Arema berlarian menyelamatkan diri, sedangkan sopir Carry, Slamet ditarik keluar dikeroyok Bonek dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit.

2. Kerusuhan Pertandingan Persis Solo vs Martapura FC
Pertandingan Persis Solo vs Martapura FC di Stadion Manahan Solo, Rabu (22/10/2014) pada babak delapan Divisi Utama Liga Indonesia rusuh hingga membuat salah satu suporter meninggal. Kerusuhan tersebut dipancing ketidak tegasan kepemimpinan wasit Ahmadi Jafri selama pertandingan. Sementara hasil pertandingan yang berakhir imbang 1-1. Kerabat korban, Adi Sulistyo, 30, mengatakan korban tewas akibat luka tusukan benda tajam di dada kanan dengan lebar 2 cm. Menurut Adi, tusukan tersebut cukup dalam mencapai 8 cm hingga tembus ke paru-paru korban hingga menyebabkannya tewas. Sebelumnya, polisi memastikan lubang yang terdapat di dada bagian kanan korban kerusuhan suporter di Stadion Manahan Solo, Joko Riyanto alias Precil, disebabkan benda tajam. Kapolresta Solo, Kombes Pol. Iriansyah, Kamis (23/10/2014), mengatakan berdasarkan hasil autopsi sementara dari Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Semarang, luka di dada korban bisa jadi akibat keris, pisau, atau obeng.

3. Tewasnya Lima Suporter Persebaya
Suporter Persebaya itu diduga tewas terjatuh dari atas kereta api karena diserang suporter Persela Lamongan dengan lemparan batu. Mantan Kapolrestabes Banjarmasin menyatakan, dugaan sementara tewasnya 5 bonek ini karena kecelakaan. 5 suporter Persebaya ini diduga tersangkut kabel dan terbentur benda keras/seng (rambu-rambu) saat berada di atas kereta api. Diberitakan sebelumnya, sebanyak 4 suporter Persebaya tewas saat dalam perjalanan ke Bojonegoro. Sementara 1 suporter lagi akhirnya meninggal dunia di rumah sakit Lamongan setelah mengalami koma. Para bonek yang menumpang kereta barang ini bertujuan menonton pertandingan tandang antara Persebaya dengan Persibo Bojonegoro Sabtu (10/3/2012).

4. Fans PSCS Cilacap Diserang Kelompok Bercadar
Sekelompok orang bercadar menyerang bus yang ditumpangi puluhan fans PSCS Cilacap, Minggu (12/10/2014) malam di Jln Solo tepatnya depan lapangan Parkir Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Penyerangan itu mengakibatkan satu orang suporter meninggal dunia dan beberapa orang mengalami luka-luka. Fans yang luka-luka disebabkan terkena sabetan pedang dan lemparan batu. Sedangkan yang meninggal dunia bernama Muhammad Ikhwanudin (19) warga Petenangan, Bantah Sari Cilacap Jawa Tengah. Ikhwanudin mengalami luka di bagian wajah dan luka bekas tusukan di sekitar ulu hati. Setelah melakukan penyerangan sekitar 20 menit, para pelaku lantas melarikan diri dan membuat puluhan suporter PSCS Cilacap mengalami luka-luka akibat sabetan senjata tajam. Sementara Muhammad Ikhwanudin korban meninggal Dunia dibawa ke RS Sarjito Yogyakarta untuk diotopsi.

5. Suporter Pelita Jaya Tewas Dianiaya Viking Persib
Seorang suporter sepakbola klub Pelita Jaya Karawang tewas mengenaskan pada 25 April 2011. Korban bernama Muhammad Azis, berusia 12 tahun mengalami luka serius akibat bacokan samurai di kepala bagian depan. Siswa SMP kelas satu ini menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan sekelompok pemuda yang mengaku suporter Persib Bandung, Viking. Seorang suporter sepakbola klub Pelita Jaya Karawang tewas mengenaskan. Korban bernama Muhammad Azis, berusia 12 tahun mengalami luka serius akibat bacokan samurai di kepala bagian depan. Siswa SMP kelas satu ini menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan sekelompok pemuda yang mengaku suporter Persib Bandung, Viking.

6. Pengeroyokan di GBK
Salah seorang korban pengeroyokan usai laga Persija versus Persib di Gelora Bung Karno Jakarta, Ahad 27 Mei 2012 petang adalah warga Kota Bandung. Korban diketahui bernama Rangga Cipta Nugraha, 22 tahun, warga Jalan Edang Suwanda Kampung Pasir Leutik RT 05 RW 04, Desa Padasuka, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Insiden pengeroyokan mengakibatkan tiga orang tewas. Korban lainnya bernama Lazuardi, 29 tahun. Sementara satu korban lainnya belum diketahui identitasnya. Peristiwa pengeroyokan itu terjadi di sekitar parkir timur Senayan, di luar arena pertandingan. Selain tiga orang tewas, kejadian itu juga mengakibatkan lima orang mengalami luka-luka yang sempat dilarikan ke rumah sakit RSCM.

7. Satu Suporter Persebaya 1927 Tewas Di Pertandingan Persija Jakarta vs Persib Bandung
Super Indonesia dalam lanjutan Indonesian Premier League (IPL) 2011-12, Minggu, 3 Juni 2012 yang mempertemukan Persija Jakarta vs Persib Bandung, memakan nyawa suporter Persebaya 1927, Purwo Adi Utomo tewas. Kerusuhan terjadi di Stadion Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur. Purwo Adi Utomo atau akrab disapa Tomy merupakan siswa sekolah SMKN 5 Surabaya. Remaja bertubuh bongsor itu baru berusia 17 tahun saat ajal menjemputnya. Letupan kerusuhan pada pertandingan Persebaya 1927 vs Persija IPL, Minggu kemarin sebenarnya sudah mulai terasa saat tuan rumah Persebaya tertinggal 0-2 hingga memasuki menit ke-70. Namun suasana kembali  mereda saat Persebaya berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 enam menit berselang. Saat memasuki injury time, Persebaya kembali tertinggal setelah Emanuel de Porras membobol gawang Persebaya. Usai mencetak gol, De Porras merayakannya ke arah penonton. Aksi ini pun memantik emosi suporter tuan rumah yang secara spontan melempari botol minuman ke bench Persija IPL. Beruntung petugas kepolisian dibantu panitia pelaksana (panpel) masih berhasil meredakan emosi bonek. Suasana semakin tenang setelah tak lama kemudian, Persebaya berhasil menyamakan menjadi 3-3. Tandukan keras Fernando Soler menyelamatkan tuan rumah dari kekalahan. Keributan tiba-tiba pecah saat sebagian suporter memasuki lapangan untuk melepas spanduk dan mengambil aksesoris lainnya yang ada di pinggir lapangan. Beberapa bonek yang ditemui mengaku bahwa aksi ini biasa mereka lakukan saat Persebaya menjamu tamunya di kandang. Suasana semakin kacau saat polisi kemudian melepaskan gas air mata ke arah tribun penonton kelas ekonomi. Setidaknya ada enam kali tembakan gas air mata. Asap tebal yang terbawa angin hingga ke tribun VIP. Situasi ini pun membuat penonton yang ada di sana berhamburan ke arah pintu keluar. Beberapa orang tua yang membawa anaknya mulai panik. Sebagian terlihat turun hingga ke lapangan. Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Tri Maryanto mengaku tindakan polisi sudah sesuai prosedur. Menurutnya, kerusuhan bermula setelah terjadi lemparan-lemparan yang diarahkan ke lapangan dan bangku pemain cadangan. Pihaknya pun terpaksa mengambil langkah tegas dengan melepas gas air mata saat sebagian suporter mulai berusaha masuk ke dalam lapangan.

Selembar nyawa manusia jauh lebih berharga di atas segalanya –kemenangan, gelar juara, solidaritas, fanatisme suporter, atau apapun. Sepak bola dan kompetisi Liga Indonesia digelar untuk tujuan-tujuan yang jauh dari sifat kekerasan. Jika niat yang mulia itu tak bisa diwujudkan dan justru dampak negatifnya yang lebih menonjol, jangan salahkan jika publik semakin alergi terhadap pertandingan sepak bola di Tanah Air. Sepak bola memang penting, tapi nyawa manusia jauh lebih penting.