7 Berita Penuh Kontroversi GoJek Selama 2015, Hebohkan Masyarakat

Kepadatan penduduk merupakan salah satu permasalahan di kota besar. Banyak warga pedesaaan melakukan urbanisasi ke kota besar untuk mengadu nasib. Seperti halnya kota Jakarta selain menjadi Ibu Kota Negara, Jakarta juga dijadikan sebagai pusat niaga. Jakarta merupakan kota metropolitan yang memiliki tingkat aktivitas yang tinggi. Penduduk yang padat pasti membutuhkan layanan publik yang memadai terutama layanan transportasi. Kemacetan menjadi fenomena yang sering terjadi di Jakarta, namun akhir – akhir ini keberadaan ojek online sedikit mengatasi kemacetan di kota besar. Berikut berita mengenai GoJek yang menghebohkan masyarakat:

1. Ojek Online Dilarang Oleh Kementerian Perhubungan
Kabar pelarangan pengoperasian ojek online ataupun layanan kendaraan online sejenis lainnya beredar pada Kamis, 17 Desember 2015. Kebijakan tertuang dalam Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015 yang diteken Jonan itu ditujukan ke Korps Lalu Lintas Polri, para kapolda dan gubernur di seluruh Indonesia. Keputusan tersebut diambil karena kehadiran layanan ojek online dianggap tak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) dan peraturan perundang-undangan turunannya.

2. Pencabutan Larangan Ojek Online
Setelah muncul kabar mengenai larangan pengoperasian ojek online, Presiden Jokowi bersikap tegas, memanggil Menteri Perhubungan (Menhub) Ignatius Jonan untuk membahas soal larangan ojek online tersebut. Jokowi menilai larangan beroperasinya ojek online yang dikeluarkan Kemenhub justru membuat masyarakat semakin susah. Keberadaan ojek online, seperti GoJek dan angkutan online lainnya sangat dibutuhkan masyarakat. Menurut Jokowi, daripada melarang GoJek, lebih baik Kemenhub memfokuskan pada pembangunan transportasi massal yang cepat, murah, aman, dan efisien. Setelah transportasi massal yang ramah bagi publik telah tercipta, maka pemerintah tinggal menyerahkan kepada masyarakat akan memilih transportasi yang mana. Setelah menuai protes, Menteri Perhubungan (Menhub) Ignatius Jonan langsung memberi keputusan yaitu membatalkan larangan GoJek dan sejenisnya beroperasi sebagai angkutan umum. Namun itu hanya bersifat sementara untuk mengisi kesenjangan hingga pelayanan transportasi publik dianggap layak.

3. Kisah Driver GoJek Yang Menghebohkan
Driver GoJek Cantik yaitu Eugene Patricia menjadi perbincangan publik, khususnya para pengguna jejaring sosial. Foto mahasiswi salah satu perguruan tinggi yang tengah mengenakan setelan Driver GoJek lengkap dengan jaket dan helm-nya. Selain itu ada Driver GoJek gendong anak dimana salah seorang penumpang GoJek menceritakan kisah seorang ibu yang membawa serta anaknya ketika tengah bekerja sebagai Driver GoJek di akun Facebooknya. Kemudian Driver GoJek berparas ganteng yang membuat para perempuan tidak menolak jika dibonceng. Dan ada lagi seorang Driver GoJek mengendarai motor mahal roda tiga, yakni Can Am Spyder. Motor Can Am Spyder ini diketahui dibanderol seharga Rp 700 juta dengan dibekali mesin V-Twin Rotax berkapasitas 998 cc.

4. Ojek Online Berkembang Pesat
GoJek dan angkutan sejenisnya telah terbukti banyak membantu warga sehari-hari yang terjebak macet. Kehadiran GoJek dan angkutan sejenis juga dianggap sebagai solusi di tengah buruknya angkutan umum dan berhasil membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan rakyat kelas bawah. Meski demikian kehadiran GoJek membuat sejumlah transportasi lain mengalami kerugian seperti ojek pengkolan, taxi, dan angkutan umum lainnya menjadi sepi penumpang.

5. Tewasnya Driver GoJek
Penusukan terhadap Septiawan salah seorang Driver ojek online membuat geram ratusan Driver ojek online lainnya mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). Mereka meminta pengelola pusat perbelanjaan di Sunter bertanggung jawab atas tewasnya rekan mereka. Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar M Iqbal mengimbau para Driver tidak bergerombol dan bertindak di luar ketentuan hukum.

6. Driver GoJek Terlibat Kasus Order Fiktif
Beberapa driver GoJek yang jujur telah melaporkan adanya penyalahgunaan subsidi perusahaan. Hal itu dilakukan dengan membuat ratusan order fiktif menggunakan akun palsu. Pihak GoJek sendiri mengungkapkan sudah mengamati hal ini cukup lama dan memiliki bukti kuat terhadap setiap individu terkait bahwakan para driver ini sudah diberikan peringatan beberapa kali. Hal ini merugikan driver GoJek lain sebab para driver tidak mengambil order nyata, namun menerima pendapatan jutaan per bulan. CEO GoJek Nadiem Makarim, kecewa terhadap kasus order fiktif ini. Akan tetapi, GoJek masih memberi kesempatan terakhir untuk para driver tersebut mengembalikan uang penipuan tersebut.

7. Aksi Demo Driver GoJek
Penurunan tarif yang ditetapkan oleh manajemen GoJek memunculkan berbagai tanggapan dari para driver. Sebagian dari mereka khawatir bahwa hal ini dapat mengurangi penghasilan. Tarif yang awalnya Rp 4.000 per kilometer, kini diturunkan jadi Rp 3.000 per kilometer. Driver kecewa karena pihak manajemen GoJek tidak memberitahukan informasi penurunan tarif.  Para driver GoJek berencana melakukan mogok kerja dengan mematikan handphone dan ramai-ramai menggelar demo ke kantor GoJek.

Semoga kebijakan pemerintah tepat dan tidak ada pihak yang dirugikan lagi setelah muncul ojek online tersebut. Dan para driver GoJek memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat sesuai apa yang telah diharapkan.