6 Foto Kontroversi Terkait Pemberitaan Presiden Jokowi, Jadi Perbincangan Hangat Masyarakat

Presiden Joko Widodo kembali menjadi sorotan media setelah unggahan foto Yulian Paonganan yang di anggap menghina Presiden. Namun bukan sekali ini, Pak Jokowi mendapat serangan dari orang-orang yang tidak menyukai dirinya. Berikut beritanya:

1. Unggah Foto Jokowi-Nikita Yulian Paonganan di Polisikan

Unggah Foto Jokowi-Nikita Yulian Paonganan di Polisikan
Gara-gara memposting foto Presiden Joko Widodo bersama Nikita Mirzani, Yulian Paonganan alias Ongen ramai diperbincangkan. Pasalnya, selain mengunggah foto tersebut, Ongen juga membubuhkan hastag tidak terpuji bertuliskan #PapaDoyanLo***. Ongen memang dikenal kerap membuat postingan dan hashtag yang menyerang Jokowi. Hampir setiap hari, Direktur Maritime Institute yang pernah dikaitkan dengan akun kontroversial @TrioMacan ini membuat tanda pagar berisi komentar negatif. Joko Anwar, Salah sutradara mengungkapkan, foto itu diambil saat Jokowi dan Nikita Mirzani bersama-sama saat nonton bareng film Comic 8 beberapa tahun silam. Film itu juga diperankan oleh Nikita Mirzani. Foto itu kembali diunggah seiring dengan mencuatnya nama Nikita Mirzani dalam kasus “Prostitusi Artis”. Sayangnya, beberapa saat setelah foto ini diunggah, postingan beserta akun ini menghilang. Akun @ypaonganan diduga sengaja ditutup lantaran diancam dilaporkan ke pihak kepolisian. Berdasarkan catatan akun pencatat tren, @TrendinaliaID menyebut @ypaonangan sebagai salah satu akun teraktif dalam tagar #PapaMintaLo***. Namun menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Agus Rianto di Kompleks Mabes Polri, pemilik akun media sosial @ypaonangan, Yulianus Paonganan, mengungkapkan penyesalannya kepada penyidik Subdirektorat Cyber Crime Bareskrim Polri setelah ditangkap pada Kamis (17/12/2015) pagi. Yulianus dikenakan Pasal 4 ayat (1) huruf a dan e Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Dia juga dikenakan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik. Atas perbuatannya, Yulianus yang berprofesi sebagai pemimpin redaksi majalah Maritim dan dosen itu terancam hukuman penjara minimal enam tahun atau maksimal 12 tahun serta denda minimal Rp 250 juta atau Rp 6 miliar.

2. Kisruh Foto Jokowi dan Suku Anak Dalam

Kisruh Foto Jokowi dan Suku Anak Dalam
Kabut asap di wilayah Sumatera menyebar hampir ke sebagian besar wilayah itu. Tak terkecuali wilayah Jambi. Hutan yang menjadi lingkungan tinggal Suku Anak Dalam atau Orang Rimba Jambi di wilayah itu pun tak luput dari kepungan asap. Bencana akibat kebakaran hutan dan lahan ini menjadi perhatian Presiden Jokowi. Untuk mengetahui penanganan dampak kabut asap bagi Suku Anak Dalam, Jokowi dan Ibu Negara Iriana bersama rombongan bertolak ke Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi menggunakan helikopter TNI AU pada Jumat 30 Oktober 2015 siang. Karena itu blusukan ke lahan sawit yang kini menjadi tempat tinggal Suku Anak Dalam, bukan hal baru bagi Jokowi. Dia berdialog langsung dengan rakyatnya itu. Duduk sama rata di tanah, sama seperti rakyatnya. Jokowi jongkok saat menemui mereka untuk mendengar langsung keluhan mereka akibat kabut asap. Namun tiba-tiba kunjungan Jokowi ke tempat tinggal Suku Anak Dalam kini menjadi buah bibir di media sosial. Para netizen membicarakan foto Jokowi saat menemui suku pedalaman itu yang diduga rekayasa atau setting-an. Di gambar yang diunggah Tim Kepresidenan itu, terlihat Jokowi tengah berbincang dengan 5 orang Suku Anak Dalam tanpa mengenakan pakaian lengkap. Namun para penuding membandingkan dengan foto lainnya, di mana Suku Anak Dalam mengenakan pakaian. Para penuding membalikkan kronologi pertemuan Jokowi dengan Suku Anak Dalam. Pihak-pihak tersebut menyatakan orang-orang di gambar itu disebut sama dan rekayasa semata. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang turut mendampingi kunjungan Jokowi pun buka suara. Dia geram dengan tudingan miring itu. Menurut Khofifah, foto yang beredar, baik yang hanya mengenakan pakaian tradisional maupun yang berpakaian lengkap, adalah pertemuan yang memang benar-benar dilakukan Jokowi. Dia menganggap penyebar foto tersebut sengaja melakukan tindakan tersebut sebagai bentuk fitnah di media sosial, untuk menghambat kerja pemerintah. Namun terkait rencana Presiden melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian, Khofifah enggan berkomentar panjang.

3. Tukang Sate Yang Menghina Jokowi di Facebook

Tukang Sate Yang Menghina Jokowi di Facebook
Muhammad Arsyad adalah warga Ciracas, Jakarta Timur. Dia diamankan karena dituduh menghina Presiden Jokowi dengan mengunggah gambar tak senonoh di media sosial Facebook.
MA ditangkap di rumahnya pada Kamis 23 Oktober 2014 oleh 4 penyidik Mabes Polri berpakaian sipil. Dia langsung dibawa ke Mabes Polri, untuk diperiksa sekaligus dilakukan penahanan dalam waktu 1×24 jam. Dirtipideksus Bareskrim Polri saat itu, Brigjen Pol Kamil Razak mengatakan, Arsyad sendiri yang membuat dan mengedit foto tidak senonoh Jokowi dan Megawati Soekarnoputri, kemudian menyebarnya melalui akun Facebook bernama Arsyad Assegaf. “MA ditangkap karena dia memuat, menyebarkan dan memperbanyak gambar pornografi (Jokowi- Megawati),” kata Kamil Razak dalam siaran persnya di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (29/10/2014). Atas perbuatannya, lanjut Kamil, pria yang berprofesi sebagai tukang tusuk sate itu disangkakan melanggar UU Pornografi dengan Pasal Pornografi sesuai UU Nomor 44 Tahun 2008 dengan ancaman 12 Tahun Penjara. “Tak hanya itu Polri juga melapisi dengan UU KUHP Pasal 310, 311 soal pencemaran nama baik,” ucapnya. Namun, penahanan Arsyad kemudian ditangguhkan dan kasusnya tidak dilanjutkan ke pengadilan. Kapolri Jenderal Sutarman mengatakan, kasus ini menjadi pelajar buat seluruh rakyat Indonesia utamanya yang sering bermain di media sosial. Dia berharap media sosial digunakan dengan baik. “Jadi kita imbau, social media ini digunakan untuk komunikasi, komunikasi dalam rangka untuk meningkatkan efektif dan efisien kita dalam berbagai kegiatan. Tetapi jangan digunakan untuk masalah yang menyimpang termasuk di dalamnya adalah mengirim gambar pornografi, mengirim film-film pornografi yang itu bisa diakses oleh anak-anak dan itu yang akan berpengaruh terhadap psikologis anak. Dan ini yang harus kita lakukan penegakan hukum,” jelasnya. Saat dibebaskan, Arsyad sendiri mengaku jera bermain Facebook setelah sempat dibui karena ulah isengnya. Dia memilih kembali berdagang sate seperti sebelumnya. “Bersyukur banget bisa bebas. Dapat pengampunan dari Pak Presiden. Saya sujud syukur waktu lihat ibu saya diterima Pak Presiden,” kata Arsyad. Arsyad dikenai wajib lapor. Kasusnya hingga kini tidak pernah berlanjut ke pengadilan.

4. Foto Jokowi Naik Haji Bareng Tantowi Yahya

Foto Jokowi Naik Haji bareng Tantowi Yahya
Dugaan dan tuduhan Joko Widodo bukan beragama Islam tampaknya membuat para pendukungnya berusaha keras membuktikan ketidakbenaran itu. Salah satunya dilakukan oleh Niken Satyawati, ibu empat anak yang tinggal di Solo dan kenal sangat dekat dengan Jokowi. Menurut dia, yang menulis lewat akunnya di Kompasiana dengan judul Akhirnya Foto Jokowi Naik Haji Tahun 2003 Ditemukan, banyak sekali orang awam terpancing dengan isu SARA itu, padahal Niken mengetahui hal itu tidak benar karena ia mengenal mantan Walikota Solo itu dan mengenal beberapa anggota keluarganya. Akhirnya, ia bertemu dengan dr Rusmawati SpA yang selama ini adalah dokter anak yang dia percayai. Suami Bu Dokter itu, ternyata  punya foto-foto yang disimpan di hard disk, karena kakaknya ikut berangkat ke Mekkah bersama Jokowi. Setelah sempat mengalami kendala karena foto-foto tersebut tidak diketahui keberadaannya, Niken akhirnya mendapat kabar baik. Bagi Niken, penemuan foto ini sangat penting karena sebelumnya ada blogger yang mengunggah foto Jokowi ketika mengikuti umroh tahun 2012 pada postingan tentang naik haji. Foto itu kembali dibully oleh para pegiat dunia maya, karena dianggap berbohong. Foto umrah disamakan dengan foto haji. “Sedih,” tulis Niken. Dengan ditemukannya foto ini, Niken berharap kontroversi soal agama Jokowi dan gelar H di depan namanya yang selama ini difitnah sebagai Heribertus (nama baptis), dapat berakhir.

5. Kalah 0-10, Suporter Malaysia Pajang Foto Jokowi

Kalah 0-10, Suporter Malaysia Pajang Foto Jokowi
Tim nasional Malaysia menelan kekalahan kandang terburuk sepanjang sejarah persepakbolaan negara itu. Pada pertandingan babak penyisihan grup Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Asia di Kuala Lumpur, Pasukan Harimau Malaya yang dibesut pemain legendaris mereka, Dollah Saleh, dibekap 0-10 oleh Uni Emirat Arab. Kekalahan ini tak pelak menjadi pukulan lebih lanjut bagi Malaysia yang tengah mengalami kekisruhan ekonomi dan politik yang pelik. Bahkan ini terjadi setelah belum ada seminggu demo besar besaran yang digelar secara serentak di sejumlah kota besar di Malaysia untuk menentang pemerintahan yang sekarang ini. Mereka menuntut perbaikan pemerintahan pimpinan Perdana Menteri Najib Razak. Dollah Saleh langsung menyatakan pengunduran diri. “Siapa yang bisa menerima kekalahan 0-10? Itulah alasan saya mundur,” kata Dollah seperti dituliskan Super Sport. “Ini merupakan sejarah kekalahan terburuk untuk Timnas Malaysia”. Namun hal ini tidak membuat suara-suara tidak puas mengendur. Justru sebaliknya, kian lantang. Yang mengejutkan, di media sosial, terutama Twitter dan Facebook, banyak netizen Malaysia yang mencoba menggiring opini publik kepada situasi persepakbolaan Indonesia. Mereka memajang foto Presiden Indonesia, Joko Widodo, mengutip pernyataannya yang di Indonesia sendiri sebenarnya kontroversial. “Kalau hanya ingin ikut event internasional tapi selalu kalah, kebanggaan kita di mana?”. Suporter Malaysia, entah serius entah hanya didorong rasa kesal berlebih, menyebut ada baiknya FIFA juga membekukan FAM sebagaimana PSSI.

6. Kontroversi Foto Jokowi-JK Tidak Dipajang di DPR

Kontroversi Foto Jokowi-JK Tidak Dipajang di DPR
Gedung Nusantara III Kompleks Parlemen, Senayan terpajang dengan megah setiap foto Presiden Indonesia. Mulai dari foto Presiden pertama hingga Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono. Foto-foto Presiden Indonesia secara berurutan, dari Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono. Foto-foto presiden tersebut dibingkai secara megah dengan ukuran 4×3 meter. Dari foto-foto yang sudah dipajang dengan apik, namun tak ada sosok Jokowi di antara para mantan presiden tersebut. Meski masih ada satu pilar yang bisa dipakai untuk memajang Jokowi di dalam Kompleks Parlemen. Wakil Ketua DPR Agus Hermanto beralasan, tidak dipasangnya foto Jokowi di kompleks parlemen karena tak ada aturan khusus yang mengaturnya. Beda dengan sebelumnya yang memang mewajibkan gambar presiden dan wakil presiden wajib dipajang. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah pun memberikan alasan tidak dipasangnya foto Jokowi-JK itu adalah karena bertujuan untuk menjaga independensi parlemen dan foto presiden memang sudah tidak wajib dipasang di DPR sejak zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Apalagi menurut Fahri, foto Presiden dan Wakil Presiden itu bukan lambang negara seperti foto Garuda Pancasila, jadi tidak wajib dipajang. “Dalam UU juga diatur demikian (tidak wajib dipasang) karena presiden bukan lambang negara,” tegas Fahri. Meskipun demikian, anggota fraksi PDIP di DPR Arif Wibowo mengaku tidak mengerti dengan peraturan DPR yang tidak mewajibkan pemasangan foto presiden dan wapresnya. Pasalnya, menurut Arif, foto-foto presiden sebelum Jokowi semuanya telah dipajang di Gedung Nusantara III, DPR.

Belum reda kabar Presiden Joko Widodo secara mendadak memanggil sejumlah pelawak nasional di tengah pelaksanaan sidang putusan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang menuai kontoversi. Kini Pak Presiden diterpa musibah lagi dengan beredarnya foto penghinaan dirinya di media sosial. Dan masalah seperti bukan hanya sekali, namun beberapa kali terjadi. Apa yang dilakukan Presiden Jokowi, sepertinya slalu menjadi bahan pembicaraan masyarakat bahkan sampai ada yang nekat menghina.