7 Fakta Menarik Alat Pemanen Air Hujan Temuan Dosen UGM

Musim penghujan telah tiba, di Indonesia khususnya di Yogyakarta telah dilakukan penggalakan pemasangan alat pemanen air hujan dengan teknologi terbaru yang mengubah air hujan menjadi air bersih yang dapat dikonsumsi sehari – hari. Pemasangan peralatan pemanen hujan tersebut Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Yogyakarta kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Alat tersebut baru terpasang di tujuh rumah penduduk dari total target 10 lokasi pada tahun 2015. Berikut fakta menarik alat pemanen air hujan hasil temuan dosen UGM:

1. Dosen sekaligus peneliti dari Magister Sistem Teknik (MST) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) saat berkunjung ke Brisbane, Australia, Agus Maryono terkesan melihat semua rumah di sana memiliki penampungan air hujan. Agus termotivasi untuk ikut memanen air hujan dan mengembangkan alat sederhana yang cocok diterapkan di tanah air.

2. Upaya memanen air hujan sebenarnya telah ditempuh di indonesia dengan berbagai cara. Misalnya dengan mengumpulkan air dalam embung, telaga, bak penampungan air hujan, hingga membuat biopori dan sumur resapan. Namun, air yang terkumpul sering kali bercampur dengan debu atau dedaunan sehingga kesehatan air tersebut diragukan. Berbeda dengan alat pemanen ini bebas daun, debu, dan sangat jernih. Sebab, alat ini memiliki penghalau daun dan debu. Air di dalam juga masih disaring lagi sehingga terjamin kebersihannya.

3. Alat pemanen hujan semakin lengkap jika bersanding dengan sumur resapan. Fungsinya untuk menampung kelebihan air hujan yang sudah tidak mampu ditampung. Meski demikian, penggunaan alat pemanen hujan ini juga punya aturan main. Pada minggu pertama dan kedua musim hujan, jangan masukkan air hujan karena atap masih sangat kotor dan penuh debu ketika musim kemarau. Walau sudah ada penghalau debu dan daun, lebih baik tetap bersabar dulu. Operasional alat bisa dimulai pada minggu ketiga atau keempat. Pada saat musim hujan, air juga sebaiknya tidak langsung dimasukkan tangki. Biarkan air hujan membersihkan genteng terlebih dahulu pada 10 menit pertama.

4. Teknologi pemanen air hujan ini sudah terapkan di Imogiri, Kali Code Yogyakarta dan Deles-Klaten. Diharapkan kedepannya alat ini akan ada di setiap rumah. Selain bermanfaat, alat ini juga relatif murah. Alat ini sangat berguna untuk menampung air hujan dimusim penghujan dan air tersebut sangat bermanfaat ketika krisis air bersih dimusim kemarau panjang.

5. Peralatan pemanen air hujan tersebut juga dapat dipasang di perumahan bantaran sungai guna mengurangi aliran air hujan yang masuk ke sungai.Peralatan pemanen air hujan tersebut akan digunakan untuk menampung air hujan melalui talang air yang ada di rumah penduduk. Air yang tertampung akan diolah dengan sistem tertentu guna menyaring berbagai polutan yang terlarut di dalamnya sebelum dimanfaatkan.

6. Ada semacam bola seperti bola pingpong yang dipasang di alat pemanen air hujan sehingga air hujan yang pertama turun bisa dikeluarkan dan digantikan dengan air hujan berikutnya. Air hujan yang pertama kali turun biasanya masih kotor dan tidak sehat.

7. Masyarakat akan memperoleh berbagai keuntungan, selain mengurangi debit air yang masuk ke saluran air hujan atau sungai. Air yang luber dari tandon bisa diarahkan masuk ke sumur resapan air hujan. Ini juga bisa mengurangi potensi genangan sekaligus menyimpan air. Air yang tersimpan di tempat penampungan juga bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Kapasitas total penampunan air yang dipasang di rumah warga adalah sekitar 2.000 liter yang terdiri dari dua tempat penampungan air. Peralatan tersebut biasanya digunakan di daerah-daerah yang sulit memperoleh air bersih sehingga masyarakat memanfaatkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun tidak ada salahnya memasang peralatan ini di rumah anda. Masyarakat akan memperoleh pembelajaran bahwa air hujan tidak hanya terbuang begitu saja tetapi bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau saat musim kemarau tiba.