Fakta- fakta Menarik Zumwalt, Kapal Perusak Terbesar dan Termahal

Kelas Zumwalt adalah kapal perusak multi-misi, yang dibuat oleh General Dynamics Bath Iron Works untuk Angkatan Laut Amerika Serikat, menjadi kapal perusak terbesar di dunia yang pernah dibuat dengan bobot benaman penuh 15.656 ton. Pembuatan Zumwalt dimulai pada Februari 2009 Kapal pertama di kelasnya, USS Zumwalt (DDG 1000), diluncurkan pada Oktober 2013. Kapal tipe destroyer terbesar yang pernah dibuat oleh angkatan laut (AL) Amerika Serikat (AS) siap menjalani uji cobanya di Samudera Atlantik. Kapal yang memiliki bentuk unik tersebut terlihat berlayar di Sungai Kennebec, Maine, AS menuju ke laut lepas pada Senin (7/12). Dengan panjang 185,9 meter dan bobot 15 ribu ton, USS Zumwalt merupakan kapal pertama di kelasnya. Kapal perang yang namanya diambil dari Laksamana AS Elmo Zumwalt yang wafat pada 2000 itu akan menjalani uji coba sebelum digunakan oleh AL AS tahun depan. “Kami sangat bersemangat melihat Zumwalt berjalan. Bagi kru dan semua yang terlibat dalam mendesain, membangun, dan mempersiapkan kapal yang fantastis ini, peristiwa ini adalah kejadian yang besar,” kata Kapten AL AS James Kirk, seperti dilansir Telegraph, Rabu (9/12/2015). Lebih dari 200 karyawan galangan kapal, pelaut dan warga setempat berkumpul untuk menyaksikan kapal futuristik USS Zumwalt meluncur melewati Fort Popham ditemani sejumlah kapal tongkang. Berikut fakta yang dimiliki kapal Zumwalt.

1. History
Kapal  perusak  kelas  Zumwalt  bernomor  lambung  DDG  1000  adalah sebuah kapal baru multi-peran untuk US Navy.  Kapal  ini juga membawa peluru kendali serta anti-pesawat dan dukungan  armada angkatan laut, namun  fokus utama adalah pada serangan darat. Kapal ini dinamai USS Zumwalt diambil untuk menghormati mantan Kepala Staf US Navy Laksamana Elmo R. “Bud” Zumwalt Jr, yang menjabat sebagai Kepala Staf US Navy pada 1970-1974, dan diluncurkan pada tahun 2013.  Awalnya angkatan laut berharap untuk membangun 32 kapal perusak. Angka itu dikurangi menjadi 24, kemudian ke 7, karena tingginya biaya teknologi baru dan eksperimental. Pada akhir Desember 2005, DPR dan Senat setuju untuk melanjutkan pendanaan program. US House of Representatives dialokasikan angkatan laut hanya cukup uang untuk memulai pembangunan satu kapal perusak, alokasi dana awal termasuk dalam Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional dari 2007. Zumwalt yang seharga AS$ 4 miliar (sekitar Rp 44,8 triliun) ini dibangun oleh BIW di galangan kapal Maine, diluncurkan di Sungai Kennebec Senin lalu, tercatat pembangunannya memakan waktu lima tahun sejak konstruksi dimulai. Zumwalt dengan nomor lambung DDG-1000 ini adalah kapal yang pertama dari kelasnya untuk menggantikan kapal perusak DDG-51 kelas Arleigh Burke. Membengkaknya biaya konstruksi dan pemotongan anggaran pertahanan menyebabkan Pentagon memangkas program ini hanya untuk 3 kapal. Zumwalt lebih panjang 30 meter dibanding pendahulunya (kelas Arleigh Burke), namun hanya memerlukan kru setengahnya saja. USS Zumwalt kemungkinan baru akan dioperasikan secara penuh pada awal 2016. Kapal kedua dari kelas Zumwalt, USS Michael Monsoor (DDG-1001) dijadwalkan akan dikirimkan pada 2016, dan kapal ketiga USS Lyndon B. Johnson (DDG-1002) baru akan dikirimkan pada 2018.

2. Performa
Kapal perusak Zumwalt adalah kapal perusak terbesar yang pernah dibangun, dengan teknologi mutakhir dan radar yang tersembunyi serta  memiliki propulsi baru dan persenjataan yang kuat. USS Zumwalt dilengkapi dengan kemampuan stealth yang membuatnya terdeteksi radar sebagai kapal kecil seukuran kapal nelayan. Kapal ini juga dilengkapi dengan sejumlah persenjataan mutakhir seperti sistem misil yang dipandu dengan komputer, dan senjata laser serta railgun. Kecanggihan teknologi yang dimiliki USS Zumwalt juga membuat kapal ini dapat dioperasikan dengan jumlah kru yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang dibutuhkan oleh kapal seukurannya. Ada deckhouse komposit yang membentuk sudut meminimalkan radar , dimana radar dan sensor sangat tersembunyi, serta suara yang sangat pelan sehingga sulit dideteksi. Dengan karakteristik panjang 186 meter, bobot perpindahan 15.610 ton, suprastruktur angular (sudut), lambung low-slung “tumblehome” untuk membelah gelombang sehingga berlayar dengan mulus, Zumwalt tidak terlihat seperti kapal angkatan laut biasanya. Perangkat lainnya yang tertanam termasuk electric propulsion dan futuristic bridge, terlihat lebih seperti kapal dalam film fiksi ketimbang kapal angkatan laut. Kapal kombatan permukaan canggih ini dilengkapi dengan fitur siluman dan dapat melakukan operasi di pesisir (litoral) serta melakukan misi perang anti udara, anti kapal selam dan anti permukaan. Perusak ini berlayar dengan kecepatan 30 knot. Teknologi terdepan memungkinkan Destroyer DDG 1000 memiliki kemampuan canggih, memberikan fleksibilitas tak tertandingi bagi kapal dan secara dramatis mengurangi kebutuhan awak. Kapal Perusak Zumwalt class memiliki teknologi Raytheon dan peralatan yang akan menguntungkan Angkatan Laut selama bertahun-tahun yang akan datang, terutama Total Ship Computing Environment (TSCE) satu unit, jaringan terenkripsi yang mengontrol semua aplikasi komputasi kapal, mulai dari lampu kapal dan mesin kontrol untuk radar dan sistem senjata. TSCE ini mengambil alih banyak pekerjaan dan otomatisasi tingkat tinggi yang memungkinkan kapal untuk berjalan lebih efektif dan efisien.

3. Persenjataan
Peluncur rudal vertical (PVLS/Peripheral Vertical Launch System) sebanyak empat sel berada pada parimeter deck. PVLS dikembangkan oleh pihak Raytrheon bersama United Defence dengan kode Mk 57 VLS. Senjata misil Tactical Tomahawk (Penyempurnaan Tomahawk TLAM), Misil Standard SM-3 dan ESSM (Evolved SeaSparrow Missile) untuk pertahanan udara. Meriam utama berupa dua pucuk meriam caliber 155mm yang memiliki jarak tembak efektif mencapai 100 mil laut dengan penembakan berkelanjutan untuk 12 butir peluru per-menit dikembangkan oleh pihak United Defence. Meriam ini dikenal dengan sebutan AGS (Advanced Gun System) – awalnya dirancang untuk program DD 21. Sedangkan untuk pertempuran jarak pendek disediakan meriam caliber 57mm Mk 110 yang dikenal sebagai Ship Close-in Gun System, juga dikembangkan oleh United Defence. United Defence merupakan perusahaan yang mengakuisisi pabrik meriam kapal Swedia, BOFORS. Radar pencari (VSR/Volume Search Radar) menggunakan system yang beroperasi pada L-band yang terintegrasi dengan radar multi-fungsi AN/SPY-3 dari Raytheon. Radar DDD 1000 akan mampu melakukan kegiatan surveillance dan tracking. AN/SPY-3 Multi-Function Radar (MFR) merupakan radar X-band active phased-array yang dirancang untuk mendeteksi rudal jelajah anti kapal jenis deteksi rendah, dan mendukung kendali penembakan rudal Standard. Sonar digunakan untuk menghadapi target bawah air, pada DDG 1000 menggunakan sonar jenis bow array dan multi-fungsi towed-array yang mampu beroperasi dengan frequensi ganda (high and medium frequency).

4. Pesawat
Kapal itu memiliki dek penerbangan dan hangar sampai dua media-angkat helikopter seperti SH-60 atau MH-60R Seahawks. Hal ini juga dapat membawa sampai tiga MQ-8 Fire Scout atau UAVs kecil lainnya.
5. Mesin
Kapal perusak USS Zumwalt adalah kapal perang permukaan yang menggunakan penggerak listrik. Sistem kekuasaan yang terintegrasi dapat mengirimkan listrik ke motor penggerak listrik atau senjata. Powerplant Its menghasilkan listrik cukup untuk kekuatan senjata masa depan seperti senjata elektromagnetik atau laser.

Semoga nantinya Indonesia juga memiliki kapal perang yang canggih seperti kapal perang Zumwalt. Namun kita harus tetap bangga terhadap karya anak bangsa karena sebagian persenjataan perang buatan Indonesia sudah diakui kehebatannya oleh dunia.