Press "Enter" to skip to content

Sederet Kabar Mengejutkan Mengenai Aksi Anti Islam Di Dunia

Comments

Proposal anti-Islam yang diusulkan oleh Donald Trump, bakal calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, mengundang reaksi protes dari dalam dan luar negeri. Mulai dari Gedung Putih sampai PBB, ramai-ramai mengecam pernyataan kontroversial Trump sebagai langkah dengan maksud menebar kebencian. Namun tidak hanya datang dari Donald Trump saja, berikut kabar – kabar mengenai aksi anti Islam yang menjadi topik pembicaraan di dunia:

1. Donald Trump Ingin Singkirkan Umat Muslim Dari Amerika Serikat
Bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump lagi-lagi menuai kontroversi karena diduga mendukung diskriminasi berbasis agama. Dalam kampanye terbuka yang digelar di negara bagian New Hampshire pekan ini, Trump tak memberikan bantahan saat pada sesi tanya-jawab, seorang pria bertanya, “Kapan kita bisa menyingkirkan semua Muslim dari Amerika Serikat?”. “Ada persoalan di negara ini, namanya Muslim. Kamu tahu bahkan presiden kita adalah salah satunya, dia bahkan bukan warga negara Amerika Serikat. Bahkan ada tempat pelatihan di mana mereka (umat Muslim) ingin membunuh kita. Pertanyaan saya, kapan kita bisa menyingkirkan mereka semua?”
Trump tak membantah pernyataan sang penanya bahwa Obama bukanlah seorang Muslim dalam jawabannya.
“Kita akan memberikan perhatian terhadap isu itu. Kamu tahu, ada orang lain yang mengatakan hal yang sama dan bahwa hal yang buruk sedang terjadi. Kita akan memberikan perhatian terhadap isu ini,” katanya sebelum melanjutkan menjawab pertanyaan penanya lain.

2. Warga As Melakukan Protes Aksi Anti Islam, Melalui Twitter
Twitter dijadikan tempat melakukan protes terhadap tindakan anti Islam. Aksi anti Islam di depan masjid di Phonix digelar menyusul penyerangan di Texas. Para pemotres anti islam membawa senjata api, aksi ini dikecam oleh para netizen. Masyarakat Amerika Serikat melakukan aksi protes terhadap sikap anti islam yang dilakukan oleh sekelompok orang di halaman mesjid di Phonix. Menurut mereka, aksi islamofobia itu tidak menunjukan semangat Amerika yang pluralis dan saling menghargai. Dengan hashtag #NotMyAmerica, masyarakat Amerika menyatkan bahwa tindakan kelompok yang mangecam Islam itu adalah sudah keluar dari norma-norma di Amerika. Ditambah lagi, kata-kata kasar, makian keluar dari mulut para demostran saat jamaah sedang beribadah di dalam mesjid. Selain itu para demontran membawa senjata, pistol, dan senapan. Mengutip CNNindonesia.com Jon Ritzheimer adalah pentolan yang memimpin aksi tersebut, aksi ini adalah reaksi atas upaya penyerangan pada pameran karikatur Nabi Muhammad SAW. awal Maret lalu yang menewaskan dua pelaku.

3. Gerakan Anti-Islam di Eropa Meningkat
Saat ini, Eropa mengalami banjir imigran Muslim. Akibatnya, banyak orang berpendapat bahwa dalam waktu lima puluhan tahun ke depan, Eropa akan dihuni oleh 50% bangsa Eropa kulit putih dan 50% imigran-Muslim, dan dalam 100 tahun, orang Eropa hanya akan berjumlah 20%. Demo anti-islamisasi Barat ini dipelopori dan dimobilisasi oleh Pegida (Patriotische Europäer gegen die Islamisierung des Abendlandes) atau Patriot Eropa Melawan Islamisasi Barat yang didirikan Lutz Bachmann dan berpusat di Dresden Jerman. Pegida menyelenggarakan demo satu kali seminggu yaitu setiap Senin. Sampai demo terakhir, Senin, 5 Januari 2015, tidak pernah ada tindakan kekerasan yang menyebabkan korban. Juga tidak ada perusakan gedung atau pusat kegiatan umat Islam. Di Eropa secara umum sedang meningkat gerakan anti-Islam. Berbagai tindakan kekerasan terhadap pusat kegiatan orang Islam sering terjadi terutama sejak 2012. Penyerangan terhadap masjid seperti melempar dengan telur, menempatkan kepala babi di pintu dan dalam masjid, pembakaran masjid terjadi di berbagai kota di negara-negara Eropa, seperti di Inggris, Belanda, Belgia, Prancis, Jerman, Austria dan Denmark.

4. Perancis Bersatu Dukung Kaum Muslim Setelah Serangan Paris
Saat ISIS bersorak sorai dan mendapat kredit dari salah satu serangan teroris paling mematikan di masa Perancis modern, emosi semakin tinggi, terutama diantara 5 juta populasi Muslim di negeri itu, yang terbiasa diawasi secara ketat dan menerima ancaman setelah para ekstrimis yang juga menyebut diri mereka Muslim menyebarkan malapetaka. Sentimen anti-Islam sudah meningkat sejak serangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo, Januari lalu. Kejadian anti-Islam naik hingga 281 persen pada tiga bulan pertama tahun 2015 dibanding tahun sebelumnya. Beberapa jam setelah serangan pada hari Jumat lalu itu, kaum Muslim di Paris waspada akan tindakan balas dendam. Banyak dari mereka takut, tidakan ISIS itu akan berimbas pada semua Muslim, walaupun kelompok teroris itu tak pandang bulu dalam aksi pembunuhan mereka di Timur Tengah dan mengakibatkan ribuan warga Muslim, Kristen dan Yazidi harus lari untuk menyelamatkan diri. Warga Muslim pun turut menjadi korban terorisme, lapor situs berita Islam, Saphirnews. Menurut situs tersebut, pada akhir pekan, simbol-simbol keagamaan yang mencerminkan sentimen anti-Islam dicatkan di dinding mesjid di Paris bagian timur. Sementara menurut harian Perancis Le Parisien, slogan-slogan bertuliskan “Perancis, bangunlah!” dituliskan di dinding masjid-masjid lain di seputar kota itu.

5. Massa Anti-Islam di Australia
Seperti yang dilansir BBC pada 23 November 2015, Reclaim Australia untuk memprotes pembelajaran agama Islam di sekolah dan pembangunan masjid di kota tersebut. Unjuk rasa itu dihadiri sekitar 300-500 demonstran. Lalu massa Reclaim Australia menyerang demonstran No Room for Racism yang berkumpul untuk menyatakan dukungan mereka kepada komunitas Islam Australia. Juru bicara kepolisian Victoria, Alan Byrne, mengatakan Reclaim Australia mencoba menagih perhatian dan mengambil kesempatan di atas sentimen Islamofobia yang semakin meningkat sejak serangan teroris di Paris, bulan November lalu. Reclaim Australia sering mengadakan serangkaian demonstrasi di seluruh Australia, beberapa di antaranya telah berubah menjadi kekerasan di masa lalu.

6. Ribuan Orang Gelar Aksi Menentang Kelompok AntiISLAM di Konser ROCK
Lebih dari 22 ribu warga Jerman ikut ambil bagian dalam aksi unjuk rasa menentang kelompok anti-Islam PEGIDA di Dresden Jerman pada Senin (26/1). Aksi tersebut juga digelar berbarengan dengan konser rock yang digawangi oleh sejumlah musisi rock Jerman. “Hal yang mengerikan dan menyedihkan terjadi di pikiran beberapa orang akhir-akhir ini sehingga menciptakan suasana histeria di mana satu kelompok agama sedang ditargetkan sebagai kambing hitam. Ini merupakan hal yang tidak masuk akal, tidak berarti, tidak demokrastis dan benar-benar tidak bisa diterima,” kata salah satu musisi rock ternama Jerman, Herbert Groenemeyer. “Ada 4 juta Muslim di Jerman dan mereka hanya menjadi bagian dari ‘keajaiban ekonomi’ kami karena semua agama-agama lain di Jerman,” sambung Groenemeyer

7. Gerakan Anti Islam di Jerman Makin Marak
Gerakan anti-Islam di Jerman Pegida yang diduga disetir kelompok ekstrim kanan mendapat makin banyak dukungan. Dalam aksi di kota Dresden lebih 17 ribu pendukung hadir. Mereka adalah ribuan orang pendukung gerakan patriotik Eropa menentang Islamisasi Jerman dan Eropa-Pegida yang rutin menggelar aksi demonstrasi. Para “patriot” itu mengaku takut Islam. Yang pasti, gerakan ini amat berbahaya, karena mengusung pengertian tentang Islam yang terdistorsi dan tidak jelas. Mula-mula yang dikecam gerakan ini adalah kelompok radikal Islam, yang melakukan pembunuhan brutal, yang menyembelih sanderanya dengan mengatas namakan Allah di depan kamera video. Tapi kini, dalam aksi-aksi demonstrasi, yang ditentang adalah Islam secara keseluruhan. Ditambah lagi anti warga asing, anti pengungsi, anti pemohon suaka, yang menurut pendukung Pegida adalah ancaman bagi Jerman dan Eropa.

8. Alvin Tan Blogger Anti Islam Gunakan Halaman Al-Quran Sebagai Tisu Toilet
Blogger kurang ajar dan sering menyudutkan Islam yang kini melarikan diri ke Amerika Serikat berbuat ulah lagi. Setelah menerbitkan buku bertajuk ‘Sex, Pork and Persecution’ yang menceritakan kisah lucu, kehidupan di penjara dan politik, Alvin Tan, 27 yang memanggil dirinya “aktivis kebebasan bersuara” dikecam masyarakat Malaysia negara yang ditinggali sebelumnya. Hal itu usai dia memposting cerita bergambar di dalam akun Facebooknya. Dalam cerita komik bergambar dirinya itu, terlihat ia sedang berada di dalam toilet sedang memegang Al-Quran, pada pose yang lain dia terlihat menggunakan halaman Alquaran sebagai tisu, karena tisu di ruangan toilet itu sudah habis. Tindakan Alvin yang antipati terhadap Islam kali ini pastinya menimbulkan kemarahan netizen yang sebelumnya sudah dikecam karena sikap dan tindakannya yang tidak menghormati keyakinan dan agama orang lain. Jika dulu dia cuma menaikkan kemarahan umat Islam di Malaysia namun perbuatannya kini yang semakin terang-terangan menghina agama orang lain yang pastinya sulit diterima komunitas masyarakat Islam di dunia.

Kubu ekstrim dan anti-Islam di dunia sedang berusaha mengobarkan kembali perang atas dasar sentimen agama, ras, dan kepercayaan di negaranya dengan alasan menjamin keamanan. Dan umat muslim kini sedang terancam karena aksi anti islam atau anti imigran ini.