Rentetan Peristiwa Penembakan Brutal di Amerika Serikat Sepanjang Tahun 2015

Maraknya kasus penembakan oleh masyarakat sipil di Amerika, beberapa bulan terakhir telah membuat gusar Presiden Barack Obama. Berkenaan dengan itu hari ini, Rabu (16/1) Obama akan mengajukan usulan mengenai pengetatan kemilikan senjata di kalangan sipil. Wakil Presiden AS, Joe Biden yang menjadi kepala task force soal usulan ini, akan mempresentasikan soal pengetatan kemilikan senjata ini di Gedung Putih. Mereka yang diundang untuk menghadiri presentasi ini antara lain adalah anak-anak dari seluruh Amerika yang sudah menuliskan surat pada Obama soal kekerasan dan penggunaan senjata. Biden menindak lanjuti permintaan Obama untuk mengadakan serangkaian pertemuan dengan mereka yang bergerak dalam bidang penjualan senjata setelah terjadi penembakan maut 14 Desember di Newton Connecticut. Program tersebut kemudian dibuat sebagai bentuk proteksi bagi warga sipil. Nantinya selain kebijakan penjulan yang ketat, pembeli pun akan ditelusuri dulu asal usulnya sebelum pembelian senjata disetujui. Berikut kasus-kasus penembakan sepanjang tahun 2015 di Amerika Serikat.

1. Penembakan di California

Sedikitnya 14 orang tewas dalam penembakan di kota San Bernardino, dekat Los Angeles, Amerika Serikat, Rabu (02/12/15). Kepolisian setempat mengatakan pelaku penembakan mungkin mencapai tiga orang. Disebutkan mereka menyerang pusat layanan sosial bagi penyandang cacat. Seorang juru bicara polisi mengatakan sejauh ini suasana masih panas dan aparat keamanan berusaha mengamankan kantor itu. Para korban dilarikan ke rumah sakit terdekat. Beberapa jam kemudian polisi menembak dan menewaskan tersangka di sebuah daerah dekat Redlands, California, ketika petugas menemukan sebuah SUV yang dipakai orang bersenjata itu untuk melarikan diri. Satu petugas cedera dalam baku tembak. Kepala polisi San Bernardino, Jarrod Burguan mengatakan kedua tersangka yang tewas adalah seorang laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian penyerang dan dipersenjatai dengan senapan dan pistol. Tidak ada informasi siapa mereka dan bagaimana hubungan mereka satu sama lain. Tersangka ketiga ditangkap ketika berusaha melarikan diri dari lokasi baku tembak dekat SUV itu. Burguan mengatakan, tidak jelas apakah dia salah satu buronan bersenjata atau seseorang yang berusaha mencari tempat yang aman. Burguan menggambarkan penembakan ini sebagai kasus “terorisme domestik,” tetapi mengatakan, dia tidak tahu apa motifnya. Kemungkinan adanya pertikaian di tempat pekerjaan sedang ditelusuri. Kepala Polsi itu tidak mengatakan apakah penembak yang tewas atau yang cedera itu bekerja di pusat pelatihan itu atau adalah klien pusat itu.

2. Penembakan Terjadi di Sebuah Kampus di Oregon, Amerika Serikat

Kasus penembakan yang menimbulkan korban kembali terjadi di Amerika Serikat. Kali ini, penembakan terjadi di sebuah kampus di Oregon, Kamis (1/10/2015). Chris Harper Mercer masuk ke ruang kelasnya di kampus Umpqua Community College di Roseburg, Oregon, Portland, Amerika Serikat. Namun, ia tak berniat belajar. Alih-alih buku, Mercer membawa senjata dan memakai rompi antipeluru. Lalu, sekonyong-konyong pemuda 26 tahun itu menembaki dosen dan teman-temannya. Kepala polisi atau Sheriff Douglas County, John Hanlin mengatakan, sembilan orang tewas akibat ulah Mercer. “Mereka yang tewas berusia 18-67 tahun,” kata Hanlin seperti dikutip dari CNN, Sabtu (3/10/2015). Pelaku juga mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian setelah terlibat baku tembak dengan polisi. Pihak kampus, Rita Cavin mengatakan, Mercer terdaftar di kelas Bahasa Inggris dan teater. Pria 26 tahun itu melepaskan tembakan di kelas Bahasa Inggris. Celinez Nunez dari Bureau of Alcohol, Tobacco, Firearms and Explosives mengatakan, para penyelidik menemukan 13 senjata terkait pelaku. Lima pistol dan 1 senjata ditemukan di kampus. Polisi yang menggeledah apartemennya menemukan 2 pistol, 4 senapan, dan 1 shotgun. Sejauh ini motif Mercer melakukan penembakan belum bisa dipastikan.

3. Penembakan Chapel Hill

Tiga orang dilaporkan tewas dalam tragedi penembakan Chapel Hill Februari 2015. Sepertinya, pelaku menyasar umat agama tertentu. Pemberitaan mengenai tragedi penembakan ini menimbulkan polemik di sosial media. Sebulan sebelumnya, terjadi tragedi penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo. Publikasi media barat mengenai penembakan di Prancis tersebut gencar. Namun, untuk kasus penembakan Chapel Hill yang menewaskan tiga warga Muslim di Amerika ini tidak terlalu ramai. Pelaku bernama Craig Stephen Hicks diduga rasis dan sangat anti-terhadap semua agama. Hal ini diketahui dari isi unggahan pelaku di sosial media.

4. Penembakan Polisi di Ferguson

Dua orang polisi ditembak di kota Ferguson, negara bagian Missouri, Amerika Serikat dalam sebuah protes yang terjadi di depan kantor mereka. Salah satu dari polisi itu ditembak di wajah an seorang lainnya tertembak di bahu. Kejadian ini merupakan akibat dari perlakuan rasial kepolisian setempat kepada remaja bernama Michael Brown Agustus 2014. Kepolisian menembak mati remaja berkulit hitam tersebut setelah melakukan perampokan di sebuah toko. Saat kejadian, Brown tidak memegang senjata apa pun sehingga menimbulkan protes tidak hanya di Kota Ferguson tapi juga di sosial media dengan tagar #BlackLivesMatter.

5. Penembakan di Gereja Charleston

Enam perempuan dan tiga laki-laki tewas dalam tragedi penembakan tersebut. Salah satu korban tewas adalah pastur gereja tersebut. Pelaku bernama Dylann Roof itu sempat mengikuti pelajaran Injil di Gereja Emmanuel sebelum melakukan aksi brutalnya. Pria berusia 21 tahun itu diduga menganut paham Neo Nazi berdasarkan hasil temuan polisi di sebuah situs yang dikelola Roof. Dalam situs tersebut Roof mengunggah beberapa posting mengenai supremasi kulit putih. Gereja Emmanuel diketahui sebagai gereja Afrika-Amerika tertua di kawasan Amerika bagian Selatan.

6. Penembakan di Tennessee

Empat Marinir AS dan seorang pelaut tewas dalam kasus penembakan yang terjadi di Tennesee pada Juli 2015. Pelaku yang bernama Mohammad Youssuf Abdulazeez sempat mengirim sebuah pesan singkat (sms) kepada seorang temannya dengan mengutip ayat suci Alquran. Menurut pengakuan teman pelaku, Abdulazeez sempat mengungkapkan kemarahannya atas konflik di Timur Tengah. Namun, polisi menolak bahwa motif penembakan ada kaitannya dengan konflik di Timur Tengah. Abdulazeez tewas dalam baku tembak dengan polisi seusai kejadian.

7. Penembakan Jurnalis Virginia

Dua wartawan televisi tewas ditembak saat sedang melakukan liputan di Virginia pada Agustus 2015. Kejadian ini terekam kamera dan sedang disiarkan langsung di televisi. Pelaku merupakan mantan karyawan televisi WDBJ7, tempat di mana kedua korban bekerja. Pelaku diduga ingin balas dendam dengan bekas tempatnya bekerja karena perlakuan rasial tidak hanya kepadanya tetapi juga kepada rasnya. Pelaku akhirnya menembak dirinya sendiri ketika dalam pengejaran polisi. Rentetan kejadian ini menimbulkan reaksi dari Presiden AS, Barack Obama. Ia berjanji akan memberikan kontrol lebih ketat terhadap peredaran senjata di negaranya. Seperti diketahui, mempunyai senjata di Amerika Serikat adalah tindakan legal sebagai antisipasi pembelaan diri.

Dalam hematnya, Amerika Serikat, alih-alih menikmati posisinya sebagai salah satu negara maju dunia, gagal memanfaatkan akal sehat untuk menetapkan pembatasan kepemilikan senjata api di ranah pribadi. Kecemasan Presiden Obama beralasan sebab insiden penembakan ditengah khalayak sudah sering terjadi. Seharusnya sebagai negara maju pemerintah dapat mengatur izin penggunaan agar tidak salah digunakan dan menimbulkan korban jiwa.