Serangan Membabi Buta ISIS di Berbagai Belahan Dunia

Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) meneguhkan diri sebagai kelompok teror paling berpengaruh di dunia. Tak cuma membuat pusing negara-negara Timur Tengah, serangan skala massif lintas negara kini sudah dilakukan pendukung khilafah Islamiyah gaya baru itu. Lima tahun terakhir, negara Barat, khususnya Amerika Serikat mengaitkan serangan teror terorganisir ke Al Qaidah. Setelah Usamah bin Ladin tewas pada 2011, pendulum mulai berganti. Pada 2014, kelompok militan di Afghanistan, Palestina, serta Libya, mengaku berdaulat pada Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi yang memimpin ISIS. Jaringan teror ISIS pun semakin besar. Mulai dari kawasan maghribi di utara Benua Afrika, Eropa, hingga Amerika Serikat sudah memiliki jaringan militan khilafah. Kekerasan melibatkan ISIS, dengan korban tewas melimpah, tak lagi terjadi di kawasan Irak atau Suriah.

Berikut rangkuman penyerangan yang dilakukan kelompok teror terafiliasi ISIS yang paling brutal di luar negeri sejauh ini :

1. Museum Tunisia diserbu ISIS, 20 turis tewas

Tragedi menimpa Museum Bardo di Tunisia Maret lalu. Dua pria bersenjata menyambangi lokasi benda-benda bersejarah
itu, menembaki pengunjung. Hasilnya 23 orang tewas, termasuk 20 turis asing dan satu polisi pada, Jumat (20/3). Dua pelaku langsung tewas ketika polisi antiteror menggelar aksi penyelamatan. Pemerintah Tunisia segera menangkap sembilan orang yang dituding terlibat dalam aksi tersebut. Saat investigasi masih berjalan, Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Pesan itu disebar melalui akun Twitter ISIS. “Diberkati lah serangan terhadap para kafir dan pengkhianat Islam di Tunisia,” tulis akun ISIS tersebut. Menurut ISIS, dua penyerang museum itu memiliki nama panggilan Abu Zakariya al-Tunisi dan Abu Anas al-Tunisi. Nama itu berbeda dari identifikasi polisi Tunisia yang menyatakan kedua pelaku bernama Yassine Abidi dan Hatem Khachnaoi.

2. ISIS berondong hotel mewah Libya

Awal 2015, Hotel Corinthia di Ibu Kota Tripoli, Libya, diserang pasukan militan yang terkait dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Dilaporkan dua pria bersenjata menembaki lobi tempat para tamu menunggu, melempar granat ke resepsionis, serta meledakkan mobil di pelataran luar hotel. Sembilan orang dinyatakan tewas, puluhan lainnya luka-luka. Lima di antaranya adalah warga asing. Penyerang diperkirakan masuk dalam jajaran korban tewas. Saksi mata melihat ada seorang militan meledakkan diri, namun keterangan ini belum terkonfirmasi. Sejak revolusi tiga tahun lalu, Libya jarang mengalami serangan teror. Namun kehadiran sel-sel ISIS diperkirakan sudah muncul pada Oktober 2013 di Kota Derna. Intelijen setempat melaporkan para militan lokal mengaku telah berbaiat kepada Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi, sang pemimpin besar ISIS. Hotel yang diserang itu termasuk bintang lima dan kerap menjadi tempat menginap warga asing dan diplomat. Belum jelas apa agenda ISIS menyerang hotel tersebut. Akun Twitter ISIS hanya mengakui bertanggung jawab atas serangan di Tripoli tanpa menjelaskan lebih detail.

3. Pengikut ISIS sandera supermarket Yahudi Prancis

Dalam waktu tak sampai 24 jam setelah insiden penembakan kantor redaksi Charlie Hebdo di Paris, Prancis, awal tahun ini, terjadi insiden tak kalah mengerikan. Dua orang anggota ISISĀ  menyandera supermarket milik Yahudi di pinggiran Paris. Setelah lobi berjam-jam, disusul serangan polisi antiteror, drama penyanderaan itu tuntas, kendati warga sipil ikut tewas. Total lima orang tewas, termasuk pelaku bernama Amedy Coulibaly. Salah satu pelaku tersebut adalah imigran Senegal yang pernah dipenjara pada 2007 karena terlibat jaringan terorisme. Dalam situasi kacau usai penyerbuan polisi anti-teror, istri Coubally berhasil melenggang, setelah ikut membantu penyanderaan dan berhasil kabur sampai sekarang.

4. Simpatisan ISIS sandera kafe di Sydney

15 Desember 2014, terjadi penyanderaan di Kafe Lindt, kawasan bisnis Martin Place, Kota Sydney, Australia, terkait dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dua korban sandera dipaksa membentangkan bendera Jabal al-Nusra, kelompok pendukung ISIS di Suriah. Pelaku adalah imigran bernama Man Haron Monis, Manajer Kafe Lindt Tori Johnson, 34 tahun, yang jadi korban tewas bersama Katrina Dawson, 38 tahun. Seluruh korban sandera yang berjumlah 17 orang itu akhirnya berhasil tuntas dikelurkan dari lokasi kejadian pada pukul 02.00 pagi, setelah pelaku ditembak mati polisi. Pada September 2014, juru bicara ISIS Abu Muhammad al-Adnani menyerukan kepada para pengikut kelompok itu untuk menyerang negara-negara yang melawan ISIS seperti Amerika, Inggris, Prancis, Jerman, dan Australia.

5. ISIS gelar operasi Jumat berdarah di 3 negara

Ketiga insiden terjadi bersamaan Jumat (26/6). Serangan pertama adalah bom bunuh diri di Kuwait City pada pada shalat jum’at, menewaskan 13 orang. Selanjutnya pantai dekat Hotel Riu Imperial Marhaba di Kota Sousse, Tunisia, diserbu kelompok bersenjata. Imbasnya, 39 turis asing tewas, nyaris separuhnya asal Inggris. Gelombang para pelancong kembali ke negara masing-masing dari Tunisia berlangsung sampai sekarang. Terakhir, terjadi serangan di pabrik kimia “Air Product”, berlokasi di Isere, sekitar 25 km selatan Lyon Perancis yang menewaskan 1 orang dan 2 lainnya luka-luka. Jaringan ISIS telah mengirim pesan bahwa militan pendukung khilafah Islamiyah bertanggung jawab. “Ramadan tahun ini akan penuh kejutan,” tulis beberapa akun terafiliasi dengan ISIS di jejaring sosial. Total ada 51 korban tewas akibat rangkaian terorisme tersebut.

Semoga dari penggempuran yang dilakukan tiga negara yaitu, Amerika, Rusia, dan Perancis dapat membasmi militan-militan serta Markas-markas kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Serta, kita harus mampu memerangi pengaruh paham ISIS dilingkungan sekitar, agar dunia terbebas dari terorisme.