5 Hal Menarik Dari Diadakannya Konferensi Perubahan Iklim di Paris

COP atau juga disebut Konferensi Perubahan Iklim Paris 2015 ini adalah pertemuan tahunan yang menjadi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim. Total 195 negara tergabung dalam konferensi ini. Ini adalah pertemuan ke-21 (COP21).
Tujuan COP 21 adalah mengevaluasi kemajuan dalam menangani perubahan iklim dan menegosiasikan perjanjian dan menetapkan tujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang merupakan dampak utama perubahan iklim, dan suhu bumi yang terus memanas melewati ambang batas.

Namun, dalam konferensi tersebut, ada beberapa hal menarik yang mengiringi dalam pelaksanaanya. Seperti:

  1. Meskipun Paris masih dalam situasi mencekam akibat ancaman teroris setelah terjadinya #ParisAttacks, 147 kepala pemerintahan menyatakan akan hadir dalam pertemuan tingkat pemimpin. Dan menjelang pertemuan Conference of Party (COP21) semua aksi publik atau demonstrasi di Paris dilarang
  2. Kesepakatan Paris diharapkan untuk menghentikan suhu pemanasan bumi agar tidak melebihi 2 derajat Celsius. Para ahli mengatakan bahwa jika suhu bumi melebihi batas 2 derajat celcius, maka perubahan iklim akan sulit dibendung dan menimbulkan bencana skala besar. Komitmen untuk mengurangi bahkan menghentikan emisi karbon dioksida harus dilaksanakan secepat mungkin. Dan para pejabat senior perubahan iklim PBB bayangkan ‘kesepakatan yang baik’ pada konferensi Paris mendatang.
  3. Dua negara produsen emisi karbon terbesar di dunia, Amerika Serikat dan Tiongkok sepakat mendukung lahirnya Kesepakatan Paris.
  4. Perseteruan Turki-Rusia Diprediksi Mereda saat KTT Iklim 2015. Pasca-insiden ditembak jatuhnya jet tempur Sukhoi Su-24 pada Selasa 24 November,peperangan kedua negara ini  diprediksi akan mereda saat Presiden Turki Recep Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin diagendakan bertemu di KTT Iklim 2015 di Paris, Prancis, pada pekan depan.
  5. Uni Eropa Janji Mati-matian untuk Kesepakatan Iklim di Pari. Menjelang konferensi perubahan iklim Paris atau COP 21 yang dimulai 30 November 2015, Komisaris Iklim dan Energi Uni Eropa Miguel Arias Canete mengatakan ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk negosiasi yang panjang dan rumit. Namun, secara positif, dia mengatakan akan ada kesepakatan. Prioritas Uni Eropa, kata Arias Canete, adalah membuat kesepakatan Paris ditindaklanjuti dengan memperhitungkan pendapat ilmiah dan membatasi pemanasan global 2 derajat Celsius sampai akhir abad ini, dan juga transparansi dan akuntabilitas sistem untuk mendukung kesepakatan Paris yang lain. Sebanyak 28 negara menganggap dirinya sebagai pemimpin untuk memerangi pemanasan global, tetapi mereka sebenarnya bertanggung jawab sebagai penghasil 10 persen emisi gas rumah kaca.

Dalam berbagai aspeknya, COP 21 akan menentukan nasib manusia dan kemanusiaan. Banyak hal di masa depan akan bergantung kepada apa yang dicapai dalam Kesepakatan Paris, dan bagaimana negara melaksakan komitmennya dalam dekade ke depan. Jika Kesepakatan Paris hasilnya lemah dan tidak dijalankan secara serius, para ahli memperkirakan kita akan melihat dunia yang menyedihkan pada 2050, atau 2100. Tidak hanya itu, COP 21 merupakan forum penting untuk menjaga kondisi hari ini dan masa depan dari manusia dan kemanusiaan.