Bos Freeport Datangi ESDM Karena Terancam Tidak Bisa Eksport

Kemarin Direktur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin kembali mendatangi kantor Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Jakarta Pusat.

Untuk hari ini, pertemuan membahas MoU Freeport dengan pemerintah Indonesia yang dibuat Juli 2014 dan habis 25 Januari 2015. MoU ini yang membolehkan Freeport melakukan ekspor meskipun UU Mineral dan Batu Bara melarang ekspor tambang mentah mulai 2014.

Dalam MoU ini, Freeport diminta menunjukkan progres pembangunan smelter atau pabrik pemurnian tambang. Namun Kementerian ESDM kecewa, karena tidak ada progres pembangunan smelter tersebut. Sebelum 24 Januari 2015, perkembangan pembangunan smelter harus sudah 60%. Indikatornya, pembebasan lahan sudah selesai.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) R Sukhyar menerangkan, pertemuan ESDM dengan pihak Freeport dimulai sekitar pukul 09.00 WIB ini lebih khusus menyoal MoU itu.

Hingga 20 Januari 2015, progres smelter tidak terlihat. Menteri ESDM Sudirman Said kecewa. Bila tidak menunjukkan perkembangan berarti hingga 24 Januari 2015, Freeport tidak akan bisa melakukan ekspor mineral tembaga konsentrat lagi. Freeport pun mengharap ada perpanjangan waktu MoU sehingga tetap bisa melakukan ekspor setelah 24 Januari 2015.

Sukhyar menegaskan, Ada persyaratan yang harus dipenuhi bila Freeport ingin tetap bisa melakukan ekspor mineral.

“‎Tetap kita harus diikuti seperti smelter dan sebagainya. Sekarang ini kita minta supaya lebih memperhatikan pembangunan Papua dan Nasional. Artinya, seberapa besar jasa Freeport dan kontribusi untuk Papua dan Nasional. Ini yang hari ini didiskusikan,” pungkas dia.

Pertemuan ini sendiri digelar di bersamaan dengan pertemuan lainnya di Kantor Dirjen Meneral dan Batu Bara (Minerba) Jalan Supomo‎ yang dipimpin oleh Direktur Mineral Kementerian ESDM Edi Prasodjo dan PT Freeport diwakili oleh Direktur Tekniknya.