Para Nelayan Mengeluh Mengenai Kebijakan Menteri Susi

Para nelayan kini tengah mengeluh mengenai kebijakan Menteri Susi, salah satu kebijakannya yang memaksa nelayan harus kehilangan pembeli dan memaksa mereka membuang hasil tangkapannya adalah mengenai kebijakan pelarangan transhipment.

Kebijakan ini juga membuat pasokan ikan ditingkat konsumen jauh berkurang dan harga pasar jadi melambung. Demikian terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat antara Komisi IV dengan Asosiasi dan Perwakilan Nelayan seluruh Provinsi, Rabu 21 Januari 2015.

Penderitaan yang sama juga diungkapkan para nelayan budidaya kerapu yang merupakan komoditi unggulan perikanan laut. Ekspor ikan kerapu yang mencapai USD45 juta per tahun ini merupakan sumber devisa negara yang menghidupi 100.000 KK nelayan. Lokasi budidaya yang tersebar dari Maluku, Sulawesi, NTT, Jawa hingga Sumatera ini tidak memungkinkan sentralisasi pintu ekspor. Bila kebijakan ini diteruskan, maka 100.000 KK akan kehilangan pekerjaan dan negara mengalami kerugian besar dari hilangnya retribusi ekspor. Indonesia harus bersiap-siap kehilangan pasar dunia yang akan beralih ke negara Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

“Sangat ironis bila Malaysia dan China memberikan insentif dan dukungan bagi nelayan budidaya kerapu, di Indonesia jangankan insentif, kami malah dibuat bangkrut. Kami mohon negara bisa menjamin hak atas pekerjaan dan kepastian usaha rakyat,” ungkap Hadi dari Asosiasi Budidaya Ikan Laut Indonesia.

Daniel Johan mengungkapkan bahwa “Kementerian Kelautan dan Perikanan didirikan Gus Dur bertujuan agar nelayan lebih sejahtera. Fraksi PKB akan memastikan agar Ibu Menteri menjamin hal itu. Yang harus kita hadapi adalah rongrongan asing bukan nelayan dan pengusaha perikanan dalam negeri. Kedaulatan di bidang maritim harus terkait langsung dengan meningkatnya kesejahteraan nelayan Indonesia. Hari Senin 26 Januari 2015 nanti kita akan memastikan hal itu kepada Ibu Menteri,” Di luar kebijakan tersebut masih ada kebijakan lain yang menyangkut lobster, kepiting, pencabutan subsidi BBM, juga diungkapkan para nelayan.